A PHP Error was encountered

Severity: 4096

Message: Object of class stdClass could not be converted to string

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Object of class stdClass to string conversion

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: Object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/articles.php

Line Number: 107

Kraca, Makanan Subhat yang Diburu - Tribun Jateng
  • Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 22 Agustus 2014
Tribun Jateng

Kraca, Makanan Subhat yang Diburu

Kamis, 4 Agustus 2011 07:40 WIB
Kraca, Makanan Subhat yang Diburu
Laporan Wratwan Tribun Jogya/ Hanan  Wiyoko

TRIBUNJATENG.COM PURWOKERTO, - Siapa yang tak kenal makanan Kraca? Ya, kraca adalah jenis  makanan olahan dari keong sawah yang dibuat dengan kuah seperti bumbu rica-rica. Saat Ramadhan seperti ini, kraca dijadikan menu khas berbuka.

Menjelang berbuka puasa, penjual Kraca di sentra jajanan Jalan Pereng komplek Alun-alun Purwokerto dan produsen Kraca Chamlani (51) Jalan Kauman Lama Purwokerto diserbu pembeli.

Namun makanan khas Ramadhan ini sempat diperdebatkan kehalalannya.
Sebagian orang berpendapat memakan keong hukumnya haram karena binatang amfibi, hidup di dua dunia darat dan air. Sebagian lainnya berpendapat halal, sebab keong yang
dikonsumsi adalah keong sawah, binatang air.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas Khariri Sofa
mengatakan, keong atau kraca yang banyak dikonsumsi warga Banyumas
tidak diatur atau dibahas di dalam Al Quran maupun Hadis. Karena tidak jelas hukumnya menurutnya memakan kraca hukumnya subhat, lebih baik dihindari.

"Al Quran dan Hadis tidak menyebut bahwa kraca itu halal atau haram, istilahnya Subhat atau meragukan,"katanya ketika dihubungi, Rabu (3/8) pagi.

Kata dia, yang diharamkan dalam Al Quran dan Hadis adalah binatang bertaring dan berkuku tajam, hewan yang hidup di dua dunia, hewan yang menjijikkan seperti babi.

"Karena tergolong subhat lebih baiknya dihindari," saran Khariri yang pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto. Agar masyarakat tidak gamang mengonsumsi kraca, ia meminta agar MUI Pusat mengadakan penelitian dengan ahli Biologi dan Gizi.

Salah seorang penikmat kraca, Eka Priyo Yulianto (25) mengaku tidak mempermasalahkan hukum mengonsumsi kraca tersebut. Menurutnya, kraca adalah menu makanan lezat dan bergizi.

"Keong yang dimasak adalah keong sawah jadi boleh dimakan. Lebih penting adalah cara memilih keong dan memasaknya supaya tidak beracun," kata Eka yang senang memakan kraca sedari kecil.

Senada dengan Eka, Heru Buntyadi mengatakan kebiasaan mengonsumsi kraca tidak perlu diatur dalam ranah agama. Menurut pensiunan Humas Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, kraca merupakan makanan tradisional yang enak.

Bulan Ramadhan ini dirasakan menjadi berkah tersendiri bagi pedagang masakan kraca, Chamlani. Kata dia, saat Ramadhan omzet penjualan kraca meningkat hingga 500 persen.

"Sehari 150 Kilogram kraca bisa habis terjual. Padahal kalau hari biasanya paling hanya menghabiskan 20-30 Kilogram," kata Chamlani.

Disinggung soal hukum mengonsumsi kraca, Chamlani mengaku memiliki pendirian dalam mengolah masakan tersebut. Ia memiliki keyakinan kraca yang dibuatnya dari keong sawah itu halal serta tidak beracun.

"Memang ada yang mengganggapnya jijik dan haram memakan kraca. Tapi menurut saya ini halal," kata karyawan tatausaha di SMP Maarif NU Purwokerto Utara yang mendapat penjelasan kehalalan kraca dari siaran televisi.

Hampir setiap sore, warung kraca Chamlani yang berada di depan rumahnya selalu ramai pembeli. Warung yang buka pukul 15.00 didatangi pemburu kraca. Tidak sampe dua jam, kraca dagangannya itu laris dibeli. Tidak saja oleh pemburu kraca Purwokerto melainkan luar kota. 
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
5272 articles 92 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas