Selasa, 26 Mei 2015

Kraca, Makanan Subhat yang Diburu

Kamis, 4 Agustus 2011 07:40

Kraca, Makanan Subhat yang Diburu

TRIBUNJATENG.COM PURWOKERTO, - Siapa yang tak kenal makanan Kraca? Ya, kraca adalah jenis  makanan olahan dari keong sawah yang dibuat dengan kuah seperti bumbu rica-rica. Saat Ramadhan seperti ini, kraca dijadikan menu khas berbuka.

Menjelang berbuka puasa, penjual Kraca di sentra jajanan Jalan Pereng komplek Alun-alun Purwokerto dan produsen Kraca Chamlani (51) Jalan Kauman Lama Purwokerto diserbu pembeli.

Namun makanan khas Ramadhan ini sempat diperdebatkan kehalalannya.
Sebagian orang berpendapat memakan keong hukumnya haram karena binatang amfibi, hidup di dua dunia darat dan air. Sebagian lainnya berpendapat halal, sebab keong yang
dikonsumsi adalah keong sawah, binatang air.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas Khariri Sofa
mengatakan, keong atau kraca yang banyak dikonsumsi warga Banyumas
tidak diatur atau dibahas di dalam Al Quran maupun Hadis. Karena tidak jelas hukumnya menurutnya memakan kraca hukumnya subhat, lebih baik dihindari.

"Al Quran dan Hadis tidak menyebut bahwa kraca itu halal atau haram, istilahnya Subhat atau meragukan,"katanya ketika dihubungi, Rabu (3/8) pagi.

Kata dia, yang diharamkan dalam Al Quran dan Hadis adalah binatang bertaring dan berkuku tajam, hewan yang hidup di dua dunia, hewan yang menjijikkan seperti babi.

"Karena tergolong subhat lebih baiknya dihindari," saran Khariri yang pernah menjabat Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto. Agar masyarakat tidak gamang mengonsumsi kraca, ia meminta agar MUI Pusat mengadakan penelitian dengan ahli Biologi dan Gizi.

Halaman123
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas