Pakar UGM: Pahami Isu Perubahan Iklim dengan Benar
agar tidak terkecoh dan memahami secara benar isu perubahan iklim.
Laporan Wartawan Tribun Jogya/ Victor Mahrizal
TRIBUNJATENG.COM YOGYA - Pakar manajemen bencana UGM, Prof. Dr. Sudibyakto menghimbau kepada masyarkat akademis agar tidak terkecoh dan memahami secara benar isu perubahan iklim. Perubahan iklim yang terjadi saat ini pada kenyataanya hanyalah variabilitas iklim.
"Isu perubahan iklim hendaknya dipahami secara benar, jangan sampai menyesatkan masyarakat. Perubahan iklim terjadi apabila variabilitas iklim terjadi dalam jangka waktu yang sangat panjang, lebih dari 30 tahun atau bahkan 100 tahun," tegasnya, Jumat (23/9) dalam disuksi "Climate Change and Disaster Management di Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) UGM.
Sudibyakto menyebutkan perubahan iklim telah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia seperti di DKI, Pantura Pula Jawa (Tegal, Pekalongan, Semarang), sebagian wilayah Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. Hal tersebut ditunjukkan dengan perubahan pola hujan musiman, pergeseran musim, kejadian hujan ekstrim yang ditandai dengan hujan dengan intensitas sangat tinggi yaitu > 100 mm/jam atau > 250 mm/hari yang mengakibatkan banjir bandang.
Dampak dari perubahan iklim sangat dirasakan oleh masyarakat khsusnya para petani dan nelayan yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Disamping ancaman perubahan iklim masyarakt nelayan dan komunitas di pesisiran juga terancam mengalami kenaikan muka air laut sebagai akibat perubahan iklim global.
"Naiknya muka air laut bisa mencapai 5-10 mm/tahun yang berarti kota-kota pantai padat penduduk mempunyai risiko tinggi terkena banjir," paparnya.
Menurutnya, analisis risiko bencana akibat perubahan iklim menjadi isu strategis dan menjadi masalah lingkungan di masa kini dan mendatang. Pemetaan wilayah berisiko akibat perubahan iklim seyogianya mulai dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah. Revisi rencana tata ruang wialayah berbasisi risiko bencana juga sangat mendesak untuk dilakukan.
Atas dasar hal tersebut, PSBA UGM menjalin kerjasama dengan BAPPENAS untuk menyelenggarakan ToT (Traning of Trainers) tentang Perencanaan Mitigasi Bencana yang akan diselenggrakan 1 minggu di UGM dan 2 minggu di Jepang. Pelatihan ini diperuntukkan untuk staf pimpinan BAPPEDA di seluruh Indonesia, khususnya yang rawan terhadap bencana.
Sudibyakto menambahkan, Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM juga telah memasukkan isu Perubahan Iklim ke dalam Manajemen Bencana di Indonesia.
"Kemungkinan besar ada perubahan nama PSBA menjadi Pusat Studi Bencana dan Perubahan Iklim, yang nantinya selain sebagai Pusat Kajian Perubahan Iklim juga dapat mendukung pendirian Program Magister Adaptasi Perubahan Iklim yang sedang digodok ditingkat Sekolah Pascasarjana UGM," jelasnya.