• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 25 Oktober 2014
Tribun Jateng

Ki Sungkowo Butuh 40 Hari Untuk Membuat Keris Bertuah

Rabu, 4 Januari 2012 08:12 WIB
Ki Sungkowo Butuh 40 Hari Untuk Membuat Keris Bertuah
Laporan Wartawan Tribun Jogya/ Theresia Andayani

TRIBUNJATENG.COM SLEMAN,
– Tak mudah membuat keris yang bertuah. Pembuat dan pemesan keris perlu melakukan berbagai ritual penting, baik dari si empunya mau pemesan hingga ubo rampe, berupa makanan seperti tumpeng, jajan pasar hingga ingkung (ayam utuh) disediakan untuk meperlancar proses pembuatan keris.

 "Sesaji berupa makanan dan bunga sajen disiapkan agar pembuatan keris lancar. Setelah itu dibagi-bagikan pada warga sekitar agar mendapat doa dari warga," ujar Empu Sungkowo, pembuat keris dari Dusun Getak, Sumberagung, Moyudan, Sleman, ketika disambangi Tribun  Jogja, beberapa waktu lalu.

Sedangkan untuk proses pembuatan keris, bapak dua anak ini mengaku bisa memakan waktu dari 40 hari hingga dua bulan. "Pembuatan minimal paling tidak 40 hari ini karena proses yang rumit, dari besi atau meteor yang masih mentah, kemudian dibentuk sesuai pamornya hingga ke proses menyepuhnya,” kata Empu Sungkowo.

Sesaji yang berupa tumpeng, ingkung, jenang merah putih,  nasi gurih, setandan pisang raja, dan jajanan pasar baru saja selesai didoakan oleh Ki Empu Sungkowo Harum Brodjo dan dua orang empu lainnya yakni Empu Tugino dan Empu Pardi. Sesaji atau yang dalam bahasa Jawa disebut sajen itu disediakan dengan maksud untuk memperlancar pembuatan pusaka tradisonal orang Jawa yang disebut keris. Sajen itu disediakan agar keris yang dibuat memiliki tuah.

“Sembahyang itu juga untuk meminta agar keris itu berisi tuah, agar keris itu memiliki makna bagi si pemiliknya,” kata Empu Sungkowo.

Bagi para pencinta keris, nama Ki Empu Sungkowo Harum Brodjo  sudah tak asing lagi. Dia adalah empu yang berpengalaman. Maklum, dalam dirinya telah mengalir darah perajin keris. Eyangnya adalah salah seorang empu keris yang terkenal di zamannya yakni Empu Jeno Harumbrojo. Dirinya adalah juga keturunan dari Empu Supo dari zaman Majapahit ke – 17.

Di era globalisasi, pamor keris ternyata tak menurun terbukti dengan tingginya minat masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri untuk mengkoleksi keris. Apalagi jika keris itu bertuah, maka akan lebih banyak dicari dan diminati. Menurut kepercayaan orang pada zaman dahulu, menyimpan keris bertuah itu bisa mendatangkan pengharapan dalam kehidupan.

Terutama dalam pangkat, kedudukan, rezeki, kemakmuran dan umur panjang. Untuk bisa memperoleh keris bertuah memang tak gampang. “Saya harus berpuasa setiap hari Kamis wage, Jumat Kliwon, dan Sabtu Legi, sembahyangnya juga nggak sembarangan harus khusuk, sampai bisa dapat ilham dulu, dan memanggil arwah agar bisa masuk di dalam keris itu,” paparnya.

Sebut saja pelanggannya mulai dari Sri Sultan IX, kerabat Kraton, Mantan Bupati Sleman Samirin dan Arifin Ilyas pun berulang kali memesan keris padanya. Hingga duta besar Polandia pun tertarik untuk memesan keris padanya. Tak hanya itu saja pejabat-pejabat pun banyak yang tertarik, bahkan turis luar negeri seperti Singapura, Jerman hingga Prancis juga memesan.

 Ayah dua putera ini mengatakan untuk memesan keris tidak bisa sembarangan. Ada ketentuan khusus yang harus dipenuhi, keris harus dibuat sesuai dengan tanggal lahir dan sifatnya yang dapat dilihat dari tanggal lahirnya. Selain itu harus disesuaikan dengan pekerjaanya.

Keris yang dimiliki Bupati dengan petani berbeda. Terutama untuk jenis pamor (model keris) pun berbeda-beda. Itu karena keris memiliki tuah sendiri-sendiri yang sesuai dengan keinginan pemesan," ucapnya.

 Harga keris ini pun cukup merogoh kantong, terutama yang memiliki tuah. Harga keris mulai Rp2 juta yang termurah hingga yang termahal Rp15 juta, itu tergantung jenis dan pamornya. Pamor menentukan harga karena kerumitan dalam proses pembuatannya.
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
7539 articles 92 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas