Gantung Diri Gunungkidul Tinggi
- Dokter ahli Jiwa Gunungkidul, Ida Rochmawati menyatakan bahwa angka Bunuh diri di Gunungkidul memprihatinkan
TRIBUNJATENG.COM, GUNUNGKIDUL- Dokter ahli Jiwa Gunungkidul, Ida Rochmawati menyatakan bahwa angka Bunuh diri di Gunungkidul memprihatinkan. Tren bunuh diri di Gunungkidul, terlihat naik dari tahun ketahun. Angka tersebut masih didominasi oleh usia lanjut atau diatas 60 tahun dengan 41 persen, sementara sisanya dewasa 24 persen, 30 persen remaja dan anak-anak 5 persen.
Ida Rochmawati dalam talk show kesehatan jiwa masyarakat, di rsud wonosari, faktor terbesar orang ingin mengakhiri hidupnya ialah depresi atau aspek gangguan jiwa. "Secara psikologis remaja sangat rentan terhadap problem harga diri dan persepsi diri, sikap lingkungan sangat mempengaruhi harga diri dan persepsi dirinya," jelasnya.
Ia menjelaskan ada beberapa faktor yang mendorong masih tingginya angka bunuh diri di Gunungkidul, yang pertama, stigma masyarakat yang melihat faktor bunuh diri tidak berhubungan dengan kesehatan, namun masih berhubungan dengan suranatural, dengan isu pulunggantung. Kedua, belum ada keterpaduan sistem penanganan bunuh diri.
"Seharusnya, penanganan bunuh diri harus dilakukan secara bersama-sama, oleh pemerintah dan masyarakat. Dan kedua faktor keluarga, harus berperan untuk menanggulangi masalah kesehatan jiwa atau depresi," jelasnya.
Berdasarkan data yang di Polres Gunungkidul, dari tahun 2001-2011 mencapai 314 kasus, sementara tahun 2012 sudah ada 23 kasus bunuh diri yang didominasi gantung diri. (*)