Kejar Target Pembangunan Pasar Darurat
berusaha seoptimal mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan pembangunan pasar darurat bagi pedagang
, Energi dan Sumber Daya Mineral (DPU-eSDM) Kabupaten Magelang, berusaha seoptimal mungkin memanfaatkan waktu yang ada untuk menyelesaikan pembangunan pasar darurat bagi pedagang korban terbakarnya pasar tradisional Bandongan, (14/7/2012), sebelum lebaran tiba. Hal ini sesuai target yang ditetapkan Bupati Magelang, Singgih Sanyoto saat beraudiensi dengan para pedagang beberapa waktu lalu. Kala itu, ia menjanjikan pada para pedagang bahwa pasar darurat akan rampung dan siap ditempati maksimal H-15.
“Limasbelas hari sebelum lebaran, semoga pasar darurat sudah terbangun. Kita akan gunakan Dana Tak Tersangka untuk pembangunan tersebut,” ujarnya.
Dijelaskan Sekretaris DPU-ESDM, Sutarno, pihaknya akan berusaha secepat dan seoptimal mungkin mengejar tenggat waktu tersebut. Saat ini pun, lanjutnya, pembangunan lapak kios dan los sudah dimulai oleh pemborong. Sutarno mengatakan, dari total luas lahan yang tersedia sebanyak 4000 m2, pihaknya mungkin hanya bisa memanfaatkan separuhnya saja.
“Dulu perkiraan tanah yang terpakai dari total luas lahan 4000 m2, hanya sekitar 2500 m2. Mungkin nanti malah bisa kurang dari itu kalau melihat kontur tanahnya yang miring,” ujarnya, kemarin (21/7/2012).
Namun demikian, Sutarno menegaskan, pasar darurat tersebut nantinya cukup untuk mengakomodir semua pedagang. Sejumlah 368 pedagang pindahan dari pasar tradisional Bandongan, dikatakannya sudah termasuk dalam daftar di dalamnya. Nantinya, lanjut Sutarno, pasar darurat itu akan terdiri dari 176 unit lapak berukuran 2x2 m untuk pemilik kios serta 192 unit lapak berukuran 1,5x1,5 m untuk pedagang lesehan.
Masing-masiang lapak tersebut, dijelaskannya terbangun dari dinding triplek dengan atap asbes. Masing-masing tiangnya dari bahan kayu sengon atau waru serta lantainya rabat cor beton. Selain itu, ruang antar lapak nantinya juga akan diperkuat dengan paving blok.
Penggunaan kayu yang dikatakannya berkelas non-standart itu, menurut Sutarno lebih karena pertimbangan alasan efisiensi untuk kedaruratan. Selain itu, jika menggunakan bahan-bahan standart,ia mengatakan biayanya relatif lebih mahal.
“Meski lapak ini sifatnya darurat, kami berani menjamin kekuatan bangunannya. Apalgi, tiangnya ditanam, bukan ditempel. Sampai dua tahun pun kami yakin masih kuat,” terang Sutarno.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagagan dan Pasar (Disdagsar) Kabupaten Magelang, Bambang Dwi Purnomo juga menjamin bahwa tidak ada pedagang pasar tradisional Bandongan yang tidak mendapat tempat dalam pasar darurat tersebut. Pembagian dan penempatan pedagang dikatakannya akan diatur mengikuti pola lama seperti pasar sebelumnya.
“Penempatan pedagang mengacu pada daftar lama. Kami punya datanya. Jadi pedagang tidak perlu khawatir tidak kebagian tempat,” ungkapnya.(ing)