Pengiriman Uang Dari Warga Ke TKI Meningkat 50 Persen
Tribun Jateng - Rabu, 8 Agustus 2012 14:53 WIB
Share |
Uang_DP.jpg
TRIBUNJATENG.COM GUNUNGKIDUL, -  Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pengiriman uang dari dalam ke luar negeri justru mengalami peningkatan sebesar 50 persen di Gunungkidul. Kepala kantor pos Wonosari, M Mufti Ismail menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan tren baru yang terjadi di lebaran tahun ini.

“Seharusnya pengiriman uang mengalami peningkatan dari luar negeri ke dalam negeri. Ini justru sebaliknya,” jelasnya kepada Tribun Jogja, Rabu (8/8/2012).

Pengiriman uang melalui kantor pos itu, menurut Mufti kebanyakan dikirimkan warga Gunungkidul ke beberapa negara Asia Tenggara, seperti  Malaysia, Taiwan dan Hongkong. "Mungkin ada permasalahan keuangan yang dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di sana (luar negeri),” katanya.

Meski transaksi merata dilakukan oleh warga di semua kecamatan Gunungkidul, namun warga dari kecamatan Wonosari disebut Mufti sebagai pengirim uang ke luar negeri paling besar. “ Untuk data transaksi masih kami verifikasi,” imbuh Mufti.

Sementara ia menyebut, transaksi pengiriman uang dari luar negeri ke dalam negeri hanya mengalami peningkatan sebesar 30 hingga 35 persen. Pengiriman tersebut kebanyakan menggunakan transaksi western union. Sementara, untuk transaksi menggunakan money gram, masih jarang digunakan oleh masyarakat.

Mufti juga menyebut untuk paket pengiriman barang juga mengalami peningkatan sebesar 40 persen. Paket barang tersebut, justru berasal dari dalam negeri. “Kebanyakan dari Sumatera dan Kalimantan,” ulasnya. Sementara, untuk warga yang paling banyak melakukan transaksi barang adalah Kecamatan Panggang dan Wonosari.

Pengiriman dan transaksi tersebut, diprediksikan akan meningkat hingga H-7  atau peak season (masa ramai pengiriman). Pihak kantor pos juga akan memberikan rilis resmi transaksi dari perusahaan hingga lebaran H+4.

Sementara di Pegadaian Cabang Wonosari juga mencatat transaksi barang dan jasa mengalami kenaikan 20-25 persen menjelang lebaran. Kepala Pegadaian Gunungkidul, Agus Sulamto menjelaskan bahwa peningkatan ini dicatat sejak bulan Juli dan Agustus.  

“Diperkirakan peningkatan ini berkaitan dengan siswa baru dan menjelang lebaran,” jelasnya.

Sementara Agus menyebut kebanyakan barang yang digadaikan masyarakat adalah logam mulia berjenis perhiasan emas, elektronik dan juga kendaraan bermotor. “Kebanyakan penggadai lebih banyak dilakukan kalangan orang tua. Mereka menitipkan sementara awal puasa, kemudian menebusnya ketika lebaran tiba,” jelasnya.

Pihaknya mencatat bahwa selama bulan Juli transaksi mencapai Rp 3,6 milyar.  Sementara di bulan Agustus hingga minggu kedua sudah mencapai Rp 1,3 Milyar. “Kami prediksikan meningkat,” tandasnya. (ais)