Warga Solo Tagih Janji Gantung di Monas
Aksi unik dilakukan warga Solo untuk menagih janji mantan Ketua Umum Demokrat Anas
TRIBUNJATENG.COM SOLO, - Aksi unik dilakukan warga Solo untuk menagih janji mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum yang pernah berujar siap digantung di Monas bila korupsi. Seorang warga mengenakan topeng Anas, ia lalu dijerat lehernya menggunakan tali plastik dan diarak keliling jalan.
Aksi tersebut dilakukan di jalan Slamet Riyadi saat Car Free Day (CFD), Minggu (24/2/2013) pagi. Warga yang mengenakan topeng Anas bernama Mulyoto. Ia juga mengenakan ksotum berupa jubah tahanan warna putih-merah-hijau. Lehernya dijerat menggunakan tali plastik warna biru. "Aksi ini bentuk kekesalan saya pada Anas dan dukungan pada KPK," kata pria yang berasal dari Kelurahan Sumber ini.
Pria 56 tahun ini membawa poster kecil bertuliskan "Saya Tunggu Di Monas". Tulisan itu ia tujukan ke Anas untuk menuntut bukti janji yang pernah dilontarkan kepada masyarakat. Mulyoto kemudian berjalan menyusuri jalan Slamet Riyadi, mengajak warga untuk ikut menagih janji Anas. Ia berjalan sambil dikawal seorang warga yang memegangi tali penjerat leher. "Lelaki berani itu harus membuktikan janjinya,” katanya.
Aksi itu berhasil menarik perhatian pengunjung CFD. Mereka mengerubuti Mulyoto untuk sekedar mengajak berfoto bersama. Beberapa warga melakukan aksi jewer kuping Anas sebagai bentuk kekesalan dan kemarahan. Satu warga diantaranya adalah Deasyana Widia Susanti, mahasiswa Poltekes asal Tegal yang menjewer bersama seorang rekannya sambil berfoto.
Awalnya, mahasiswa jurusan Okupasi Terapi ini hanya berniat foto-foto saja menggunakan ponsel kamera. Setelah beberapa kali jepret, ia berpose usil dengan menjewer kuping Anas. Ia menjewer kuping kiri sementara seorang temannya menjewer kuping kanan. "Saya gemes sama koruptor. Ya dijewer saja. Harus dihukum berat 20 tahun jika terbukti korupsi," kata mahasiswa jurusan Okupasi Terapi ini. Aksi jewer serupa rupanya juga dilakukan warga lain.
Pengunjung CFD lainnya bahkan ingin menembak kepala Anas. Namun bukan menggunakan senjata sungguhan. Warga tersebut bernama Mbah Joni, yang mengenakan kostum ala tentara lengkap dengan senapan mesin mainan yang menggantung di pundak. Kakek yang setiap datang ke CFD selalu berdandan nyentrik ini tiba-tiba menghampiri Anas sambil menodongkan senjata ke arah kepala.
“Kalau tidak mau digantung, ditembak mati saja. Itu hukuman yang pas untuk para koruptor yang suka menilapkan uang rakyat,” kata kakek 50-an tahun yang menjadi anggota komunitas pecinta sepeda tua di Solo ini. Mbah Joni mengaku geram pada Anas yang awalnya dianggap sebagai politisi yang bersih. Bila memang terbukti korupsi, ia meminta Ans untk benar-benar menempati janjinya.
Mbah Joni menyatakan dukungan hukuman mati bagi para koruptor. Hukuman itu adalah solusi yang tepat untuk menghilangkan korupsi yang telah menggurita di Tanah Air. Terbukti, hukuman mati telah membuat sejumlah negara yang menerapkannya bebas koruptor. “Indonesia juga harus berani menerapkan hukuman mati ini,” harapnya. (di