Rabu, 27 Mei 2015

Sate Ayam, Penyambung Lidah Belanda-Indonesia

Jumat, 26 April 2013 20:48

Sate Ayam, Penyambung Lidah Belanda-Indonesia
KOMPAS.COM
Stan makanan khas Nusantara pada Pasar Malam Indonesia 2013 yang berlangsung di Lapangan Malieveld, Den Haag, Belanda, Rabu (20/3/2013).

TRIBUNJATENG.COM, BELANDA - Ada satu hal yang menarik dari pembukaan Pasar Malam Indonesia 2013 yang digelar di Lapangan Malieveld, Den Haag, Belanda, 20 Maret 2013. Makanan yang disuguhkan kepada para tamu adalah sate ayam. Daging ayam yang dipotong dadu, ditusuk, dipanggang lalu disajikan kepada undangan.


Sekadar catatan, ini adalah acara formal dengan tamu utama yang hadir seperti Menteri Luar Negeri Belanda Frans Timmermans, dengan tuan rumah yakni Duta Besar Indonesia untuk Belanda Retno Lestari Priansari Marsudi. Cukup unik melihat para undangan yang mengenakan pakaian resmi berbincang santai dengan tangan kanan memegang tusuk sate, sementara tangan kiri memegang gelas berisi jus apel hingga minuman beralkohol.

Kisah berikutnya didapatkan sewaktu singgah di kedai Paviljoen Poffertjes, yang terkenal dengan kue khas yang disajikan dengan taburan gula halus dan krim. Kedai yang terletak tidak jauh dari Lapangan Malieveld ini menyajikan menu sate ayam dengan harga 15 euro atau sekitar Rp 180.000 per porsi.

”Anda ingin menyantap bersama kentang goreng atau roti?” ujar pelayan melontarkan pertanyaan yang tidak diduga.

Karena penasaran, dua jenis penyajian itu dipesan bersama-sama. Saat disajikan, tiga tusuk sate dengan ukuran daging yang jauh lebih besar di Indonesia itu diguyur saus kecap yang digiling halus dan didampingi kentang goreng yang dipotong balok. Piring lain ada roti tawar tanpa olesan apa pun.

Kami menyantapnya, sedangkan meja di samping hanya memesan kopi pahit ditemani sekeping stroopwafel. Di luar, jalanan Den Haag dipenuhi pepohonan yang kering dengan suhu udara menyentuh nol derajat celsius.

Halaman1234
Editor: rustam aji
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas