Senin, 22 Desember 2014
Tribun Jateng

Calon Ketua PWNU Jateng tak Perlu Bisa Baca Kitab Kuning

Kamis, 6 Juni 2013 09:44 WIB

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah akan menyelenggarakan konferensi wilayah (Konferwil) ke-14 di di Boarding School Semesta, Gunungpati, Semarang, 23 Juni nanti. Para peserta Konferwil akan memilih ketua tanfidziyah dan Rais Am.

Menurut Ketua Tanfidziyah PWNU Jateng, M Adnan, ketua yang lama boleh dipilih kembali asalkan tidak merasa jenuh. "Kalau belum merasa jenuh, ketua lama boleh dipilih kembali oleh pengurus cabang. Dalam aturan tidak ada batasan maksimal berapa kali seseorang bisa menjadi Ketua Tanfidziyah," ujar Adnan dalam konferensi pers di kantor PWNU Jateng, Jalan dr Cipto, Rabu (5/6/2013).

Namun, Adnan yang sudah menjadi ketua tanfidziyah selama dua periode terakhir menegaskan tidak ingin maju menjadi kandidat calon ketua dalam Konferwil tahun ini. Bukan karena merasa jenuh, namun menurut Adnan perlu ada pergantian kader atau kaderisasi.

"Harus ada pemerataan penderitaan. Harus ada kader baru menggantikan yang lama sehingga kaderisasi berjalan," tandas Adnan. Ia menyatakan sudah pamit kepada jajaran pengurus tanfidziyah. Mereka juga sudah mengizinkannya berhenti. 

Sosok yang pernah mencalonkan diri menjadi wakil gubernur berdampingan dengan Bambang Sadono itu menyatakan tetap akan berkiprah di NU. "Sejauh ini sudah ada nama-nama bakal calon ketua yang muncul, tapi belum ada yang mendaftar. Tidak pantas jika harus saya sebutkan. Iya kalau daftar, kalau tidak kan jadi repot," kata Adnan.

Agar bisa dipilih menjadi ketua tanfidziyah, tuturnya, calon tidak perlu harus bisa membaca kitab kuning. Aturan batasan umum bagi kader yang hendak mencalonkan diri juga tidak ada.

"Kalau bisa baca kitab kuning lebih baik, tapi tidak bisa pun tidak masalah. Yang penting pernah tercatat sebagai pengurus NU. Mereka harus mendaftar melalui cabang," jelasnya.

Ketua Steering Committee (SC) Konferwil, KH Ubaidullah Sodaqoh, mengatakan ada agenda khusus untuk membahas isu kebangsaan. Isu tersebut akan dirumuskan dalam bahtsul masail untuk membuat dasar sikap NU terhadap beberapa masalah yang terjadi di masyarakat.

"Ada sejumlah orang yang menganggap hormat pada simbol-simbol negara itu sesat, bahkan mengafirkan. Ini di antara sejumlah masalah yang akan dibahas," ujar Gus Ubaid, sapaan akrab KH Ubaidullah. (wok)
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas