Bengawan Solo Termasuk Sungai Paling Tercemar
Sungai Bengawan Solo, termasuk satu dari lima Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan
Tayang:
Editor:
agung yulianto
TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Sungai Bengawan Solo, termasuk satu dari lima Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan kondisi pencemaran terparah di Indonesia. Empat DAS lain yang dalam kondisi memprihatinkan yakni Sungai Brantas, Sungai Ciliwung, Sungai Citarum, dan Sungai Musi.
Kondisi itu menjadi perhatian khusus Pemprov Jateng saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tingkat provinsi di Lapangan Losari, Semanggi, Pasar Kliwon, Solo, Selasa (18/6/2013).
Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Lembaga Masyarakat Indonesia Hijau (LMIH) Solo, Wasito Daru Darmawan menjelaskan, krisis yang terjadi di Sungai Bengawan Solo secara kasat mata dapat diamati dari biota air yang hidup di sepanjang DAS.
"Jika masih ada biota air yang tergolong tidak tahan pencemaran, hidup di sungai, berarti kondisi sungai tersebut relatif baik," jelasnya di sela acara. Sayangnya, fakta di lapangan menunjukkan kondisi sebaliknya.
Dari beberapa observasi yang dilakukan bersama 50 pelajar dari 7 sekolah di Solo Raya, tidak ditemukan biota tahan pencemaran di DAS Bengawan Solo. "Kualitas air di DAS Bengawan Solo sudah pada taraf sakit," kata Warsito.
Observasi dilakukan dengan metode Biotilik, yakni dengan melakukan pengamatan kuantitas biota air di sungai. Pengamatan secara kasat mata lain yang bisa dilakukan untuk menilai kualitas air di sungai yakni dengan mengamati fluktuasi air antara musim kemarau dan musim hujan.
Jika fluktuasi tidak terlalu tinggi, lanjut Warsito, kondisi sungai itu relatif masih sehat. "Sayangnya, di Sungai Bengawan Solo fluktuasi airnya sudah tinggi, antara musim kemarau dan musim penghujan. Kalau musim kemarau sangat dangkal, sementara musim hujan bisa sampai meluap," urainya.
Selain dua cara itu, kata dia, penilaian kualitas air sungai juga bisa dilakukan dengan metode kualitatif, yakni melalui uji lab. Hasil uji lab sample air Sungai Bengawan Solo yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng menunjukkan fakta yang sama.
"Kadar logam berat pada air Sungai Bengawan Solo berdasarkan uji lab BLH, sudah melebihi ambang batas," terangnya.
Jenis kadar logam yang terdapat di air Sungai Bengawan Solo di antaranya Kromium (Cr), tembaga (Cu), timbale (Pb) dan seng (Zn). Adapun, Ketua Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jateng, Agus Sriyanto menyatakan, penanganan masalah di DAS Sungai Bengawan Solo selama ini lebih menyasar pada penanggulangan akibat kritisnya DAS Bengawan Solo.
"Penanganan yang dilakukan misalnya saat banjir, yang diatasi dengan relokasi. Sedangkan penanganan penyebab kritisnya DAS Bengawan Solo masih belum maksimal," paparnya.
Jika menilik penanganan krisis DAS Brantas yang telah berlangsung selama 8 tahun, ternyata hanya bisa menurunkan tingkat pencemarannya hingga 15 persen. Sehingga, lanjut dia, diperkirakan waktu yang diperlukan untuk memulihkan DAS Bengawan Solo jauh lebih lama.
Hal itu didasarkan pada luas wilayah serta panjang sungai keduanya. Jika luas wilayah DAS Brantas adalah sekitar 11.800 kilometer per segi, dengan panjang sungai sekitar 320 kilometer, maka luas DAS Bengawan Solo sekitar 16.100 kilometer per segi, dengan panjang sungai sekitar 600 kilometer. (ade)