Sabtu, 29 November 2014
Tribun Jateng

LP2K Semarang: Upal dari ATM Sulit Dapat Ganti

Kamis, 11 Juli 2013 08:36 WIB

LP2K Semarang: Upal dari ATM Sulit Dapat Ganti
ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Deni Setiawan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang memprediksi ada ratusan nasabah pernah mendapatkan uang palsu (upal) dari mesim anjungan tunai mandiri (ATM). Namun para nasabah itu rata-rata malas melapor ke bank agar mendapatkan uang pengganti.

Menurut Ketua LP2K Semarang Ngargono, pihaknya setiap menerima laporan dari nasabah yang mendapatkan upal tidak pernah mendapatkan tanggapan memuaskan dari perbankan.

"Nasabah diwajibkan menyertakan bukti upal tersebut jika diperoleh dari dalam ATM," kata Ngargono kepada Tribun Jateng, Rabu (10/7/2013).

Padahal, lanjutnya, sesuai Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, mereka yang merasa dirugikan, tidak terkecuali yang memperoleh upal dari ATM harus diganti penuh.

"Namun, yang menjadi celah pihak perbankan untuk menolak memberikan ganti atau tidak mau tahu yakni saat nasabah minta ganti harus menyertakan bukti jelas secara fisik. Selama ini mereka terpaksa mundur karena tidak dapat melampirkannya," katanya.

Menurut Ngargono, pengaduan nasabah bisa diproses asal melengkapi bukti-bukti seperti jam berapa pengambilan dan lokasi ATM. Dari sana pihak bank mencocokan melalui CCTV. Nomor seri uangnya juga dilihat. Nasabah pun enggan mengurusi atau mengadukannya dan menganggap apes jika memperoleh upal tersebut dari ATM.

Seperti dilaporkan Tribun Jateng, sejumlah nasabah mengaku pernah mendapatkan upal saat menarik dana melalui ATM. Pakar ekonomi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Purbayu Budi Santoso yang pernah mendapatkan upal dari ATM juga mengaku dirinya tidak mendapatkan tanggapan memuaskan setiap kali melapor ke bank.

Berdasarkan data dari kepolisian, ada sekitar 79 persen upal beredar di Pulau Jawa di tiap tahunnya. “Ini memang sangat memprihatinkan,” katanya.

Lolosnya uang palsu hingga masuk bank dan ATM bisa disebabkan teller yang ceroboh dan ulah oknum karyawan vendor pengisian uang ATM.

“Oknum itu sengaja mengganti uang asli dengan uang palsu untuk keuntungan pribadi,” kata Burhan, bukan nama sebenarnya, karyawan sebuah vendor pengisian uang ATM.

Praktik itu diduga dilakukan saat penghitungan uang yang disetorkan pihak bank ke vendor. Sebelum dimasukkan ke kaset (kotak uang) ATM, kasir vendor menghitung sekaligus menyortir uang. Saat itulah kemungkinan ada oknum karyawan vendor menyisipkan uang palsu ke bundelan uang asli yang sebelumnya sudah disortir.

Seorang pegawai senior di perusahaan jasa pengisian uang ATM mengakui kemungkinan uang palsu masuk ke bank akibat ulah oknum pegawai vendor. Namun, menurutnya, peluangnya sangat kecil.

“Kemungkinan uang palsu lolos memang ada tapi sangat kecil. Karena pengawasannya ketat,” ujar pria yang enggan namanya disebutkan ini.

Dijelaskan, di Indonesia vendor atau perusahaan jasa pengisian ATM mencapai puluhan. “Sebuah perusahaan bisa melayani lebih dari satu bank untuk pengisian ATM di beberapa wilayah. Bahkan ada perusahaan bisa sampai melayani ATM dari tujuh bank,” jelas pria yang lebih 10 tahun bergelut di jasa ini.

Penulis: deni setiawan
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas