• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 31 Agustus 2014
Tribun Jateng

Penghapusan Mulok Bahasa Inggris, Ika Pertanyakan Nasib Guru Honorer

Minggu, 14 Juli 2013 09:08 WIB
Penghapusan Mulok Bahasa Inggris, Ika Pertanyakan Nasib Guru Honorer
Tribun Jateng/Samsul Hadi
Para guru mendengarkan materi yang disampaikan narasumber dalam workshop pembelajaran Bahasa Inggris di Laboratorium Bahasa Inggris IKIP PGRI Semarang, Sabtu (13/7/2013).

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Samsul Hadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Guru bahasa Inggris SD Barusari 2, Semarang Selatan, Ika Puspitarini, mengaku khawatir atas penghapusan muatan lokal (mulok) mata pelajaran itu di sekolah dasar sesuai kurikulum 2013. Menurutnya, nasib guru bahasa Inggris SD masih belum jelas.

"Guru bahasa Inggris SD itu kebanyakan berstatus honorer. Jika mulok Bahasa Inggris dihapus, terus nasib kami bagaimana? Sampai sekarang, kami belum mendapat penjelasan dari pemerintah," kata Ika di sela-sela pelatihan guru bahasa Inggris SD di IKIP PGRI Semarang, Sabtu (13/7/2013).

Ia berharap pemerintah tetap mempertahankan mulok bahasa Inggris di sekolah dasar. Dengan demikian, para guru seperti dia tetap mempunyai pekerjaan.

"Kami berharap tetap ada mulok bahasa Inggris di tingkat SD. Jika dihapus, berarti banyak guru honorer yang akan kehilangan pekerjaan," imbuhnya.

Ketua tim peneliti IKIP PGRI, Drs Wiyaka MPd, menyatakan akan berusaha memperjuangkan nasib guru honorer tersebut. Ia meminta pemerintah tetap memepertahankan muatan lokal Bahasa Inggris di sekolah dasar.

"Kami juga membahas nasib guru SD ke depan setelah kurikulum 2013 diterapkan dalam workshop ini. Ada sejumlah masukan dan saran, kami tampung dulu aspirasi tersebut untuk disampaikan kepada yang berwenang," kata Wiyaka.

Menurutnya, Forum Komunikasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Progam Studi (Prodi) Bahasa Inggris IKIP PGRI Semarang berencana mengumpulkan semua pengelola Prodi Bahasa Inggris di Jateng.

Pertemuan itu akan membahas mosi muatan lokal bahasa Inggris tingkat SD agar tetap dipertahankan. "Kami mengagendakan pertemuan itu pada Agustus mendatang," ujarnya.

Ketua Panitia, Dias Andris Susanto, menyatakan, para peserta pelatihan sepakat membentuk forum komunikasi guru bahasa Inggris SD se-Kota Semarang. Forum bernama Semarang Elementary English Teacher Community (SEET.Com) itu dibentuk untuk mewadahi mereka.

"Forum ini bisa menjadi tempat diskusi sekaligus tempat memperjuangkan nasib guru Bahasa Inggris SD di Semarang. Aspirasi yang ada bisa disampaikan secara bersama-sama," papar Dias.

Beberapa waktu lalu, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim di Jakarta menyatakan bahasa Inggris untuk SD ditiadakan agar siswa bisa memperkuat kemampuan berbahasa Indonesia. Ia menegaskan aturan itu harus diikuti semua sekolah, terutama sekolah negeri.

Di Kota Semarang terdapat 339 sekolah dasar negeri. Jika setiap sekolah itu memiliki seorang guru bahasa Inggris, terdapat lebih dari 300 guru yang akan merasakan dampak penghapusan muatan lokal itu.

Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
106964 articles 92 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas