Foto Narsis di Benteng 200 Tahun, Benteng Willem I di Ambarawa

di kawasan benteng juga masih ada peninggalan lain yang sayang jika dilewatkan

Foto Narsis di Benteng 200 Tahun, Benteng Willem I di Ambarawa
Tribun Jateng/Galih Priatmojo
Benteng Willem I 

PENAT akibat macet saat melaju di jalur Semarang-Yogyakarta? tidak ada salahnya singgah ke beberapa tempat wisata untuk sekadar menghilangkan penat dan beristirahat. Mengunjungi Benteng Willem I yang terletak di Ambarawa, Kabupaten Semarang, misalnya. Tempat bersejarah ini bisa menjadi obat penghilang rasa lelah dan boring di perjalanan.

Terletak sekitar 35 km dari Semarang, benteng yang familiar disapa Benteng Pendem tersebut berlokasi di tengah persawahan dan rindangnya pohon mahoni. Benteng tersebut berada di dalam kawasan Lembaga Permasyarakatan (LP) Klas IIA Ambarawa.

Untuk mencapai lokasi ini, jika Anda dari arah Semarang, berbeloklah ke kiri saat melalui pertigaan museum Palagan Ambarawa. Anda dapat berhenti setelah bertemu Markas Militer Batalyon Kavaleri 2 Ambarawa. Lokasi benteng tersebut ada di balik Markas Kavaleri ini. Akses masuknya bisa lewat Markas Kavaleri langung.

Jika tidak, Anda bisa melalui jalur tikus dekat RSUD Ambarawa yang tak jauh dari markas tank milik Angkatan Darat tersebut.

Tidak ada tiket masuk untuk melihat-lihat benteng tersebut. Cukup meminta izin petugas piket yang berwenang di lingkungan benteng. Begitu masuk ke lokasi, mata kita akan dimanjakan pemandangan yang menakjubkan. Bangunan bekas barak milietr dua lantai setinggi pohon kelapa yang memanjang itu seakan menuntun kita kembali ke zaman kolonial.

Menyimak remah-remah historis yang dikumpulkan, Benteng Pendem dibangun pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, sekitar 1827-1830 atau saat terjadi Perang Diponegoro.

Benteng yang menempati lahan seluas 3 hektare tersebut tidak dibangun sekaligus, melainkan bertahap. Ini ditunjukkan dari angka tahun yang tertempel di dinding bangunan benteng yang berbeda antar gedung.

Saat itu, benteng tersebut digunakan si penguasa sebagai bangunan multifungsi. Di zaman penjajahan Belanda, Benteng Pendem digunakan sebagai barak militer, penyimpanan logistik militer dan penjara. Di masa Jepang, benteng juga dimanfaatkan untuk penjara, begitu pula di masa kemerdekaan.

Memasuki 1970-an, benteng dimanfaatkan sebagai tempat tahanan politik G30S dan lembaga pemasyarakatan (lapas) untuk pelaku tindakan kriminal. Kini sisa tempat tahanan tersebut masih ada dan berfungsi baik, digunakan oleh Kementrian Hukum dan HAM sebagai LP Klas IIA Ambarawa.

Belum lama ini, benteng tersebut menjadi satu tempat pengambilan gambar untuk film Soekarno karya Hanung Bramantyo. Di sini, kita dapat menyaksikan arsitektur pintu gerbang yang wujudnya mirip gapura kerajaan Hindu yang terselip di antara bangunan kolonial.

Halaman
12
Penulis: galih priatmojo
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved