Jumat, 28 November 2014
Tribun Jateng

10 Ribu Pegawai PLN Berencana Mogok Kerja, Jateng-DIY Terancam Gelap

Senin, 23 September 2013 10:03 WIB

10 Ribu Pegawai PLN Berencana Mogok Kerja, Jateng-DIY Terancam Gelap
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Petugas PLN memindahkan jaringan listrik di Jalan Taman Diponegoro, Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (5/7/2013). Pemindahan jaringan ini sebagai bentuk perawatan terhadap instalasi listrik guna mencegah kerusakan saat terjadi cuaca buruk. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekitar 10 ribu pekerja outsourcing (OS) Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Jawa Tengah (Jateng)-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan mogok kerja. Selama aksi menuntut pengangkatan sebagai pegawai tetap, bisa saja terjadi blackout. Baik karena kerusakan yang tidak tertangani maupun ulah tangan jahil.

Ketua Serikat Pekerja Independen (SPI), Suwardiyono, menyebut, aksi akan dilakukan pada 14 Oktober hingga 27 Oktober 2013. "Ada 10.111 pekerja PLN yang berstatus OS. Mereka semua dipastikan ikut mogok kerja," katanya.

Selama mogok, kata Suwardiyono, pegawai OS tidak akan menyentuh pekerjaan, meski saat itu terjadi gangguan listrik.

Mengantisipasi kemungkinan itu, Humas PLN Distribusi Jateng-DIY, Supriyono, mengatakan, manejemen PLN cukup meminta pada vendor penyedia tenaga OS untuk meminta para pekerjanya bekerja sesuai kontrak. Dengan begitu, pelayanan pada pelanggan akan tetap terjamin.

Namun, Ketua SPI, Suwardiyono, memastikan, meski vendor yang bekerja sama dengan PLN meminta para pekerja mengakhiri mogok, para sudah bertekat dan sudah sepakat untuk mogok selama dua minggu.

PLN Distribusi Jateng-DIY pun telah membuat sejumlah rencana agar pelayanan pelanggan tetap terjamin. “Dalam kondisi apapun, PLN tetap melayani pelanggan,” tegas Wisnu. Kamis (19/9/2013).

Di antara langkah yang akan ditempuh PLN untuk tetap bisa melayani pelanggan secara optimal, adalah, menempatkan supervisor teknik dari pegawai organik di setiap kantor unit. “Kemampuan pegawai organik ini di atas rata-rata. Kalau pegawai PLN tidak ahli dalam hal listrik dan penanganan gangguan, ya jangan jadi pegawai PLN," ucap Wisnu.

Meski ada supervisor yang standby saat para pekerja OS mogok dan seorang pegawai OS, Ali, tidak yakin bila PLN akan bisa memberikan pelayanan maksimal pada pelanggannya. Sebab, katanya, nyawa sistem pelayanan PLN bukan di tangan supervisor teknik, tapi di tangan para pegawai pelayanan teknik (Yantek) dan pencatat meteran (Cater).

Jika dua sektor tersebut tidak berfungsi maksimal, pelayanan PLN akan terganggu. “Padahal, hampir semua pekerjaYantek dan Cater adalah OS,” katanya.

Ali kemudian memberikan ilustrasi pekerjaan pelayanan yang selama ini dilakukan pekerja di sektor Yantek. Biasanya, bila listrik padam di lokasi tertentu, manajemen PLN akan menginstruksikan pekerja Yantek melakukan penelusuran jaringan.

"Jika tak ada kerusakan, kami akan melapor dan listrik menyala. Jika ada gangguan, kami memperbaikinya terlebih dahulu,” ujar Ali.

Padahal, katanya, hampir seluruh pekerja di sektor Yantek adalah OS. “Bila pekerja OS bagian Yantek mogok, siapa yang akan menelusuri kerusakan jaringan dan melakukan perbaikan saat listrik tiba-tiba padam,” lanjut Ali.

Pekerja Cater PLN, Sofian mengatakan, meski pencatatan meteran listrik sudah menggunakan sistem digital, namun masih tetap butuh tenaga manusia untuk melakukan pencatatan di setiap rumah pelanggan. Laporan pencatatan kemudian digunakan PLN menagih beban biaya bulanan.

Jika Cater mogok kerja selama dua minggu, sebagian beban penggunaan listrik pelanggan pada bulan tersebut tidak terdata.
Bila ini terjadi, lanjutnya, PLN akan melakukan penagihan berdasarkan beban bulan sebelumnya. “Tentu ini merugikan pelanggan, karena biaya yang dibayar bisa tidak sesuai beban penggunaan listrik yang sebenarnya,” katanya. (tim)

Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas