• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 27 Agustus 2014
Tribun Jateng

Ketika Batik Karya Anak Berkebutuhan Khusus Semarang Menginspirasi Dunia

Rabu, 23 Oktober 2013 19:04 WIB
Ketika Batik Karya Anak Berkebutuhan Khusus Semarang Menginspirasi Dunia
Tribun Jateng/Hermawan Handaka
Siswa SLB N Semarang sedang menyelesaikan pekerjaannya membuat Batik Cipratan. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Hermawan Handaka

SIANG tadi suasana SLB N Semarang yang beralamatkan di Jalan Elang Raya 2, Mangunharjo, Tembalang, Kota Semarang terlihat ramai. Sekitar 35 siswa terlihat sibuk sedang belajar membatik dan sekitar 10 siswa lainnya sedang menyelesaikan pesanan membuat batik cipratan pesanan dari bupati Kudus.

Batik corak cipratan yang mereka buat sengaja diberi nama lokal tentang suatu daerah di Semarang, seperti batik cipratan Lawang Sewu, Kota Lama, Pecinan dan Sigar Bencah.

Alasan pemberian nama pada motif tersebut supaya masyarakat Semarang sendiri bisa lebih mencintai batik buatan Semarang, dan orang luar yang membelinya juga tahu nama wilayah di ibukota Jawa Tengah tersebut. Ukuran kain batik yang dibuat yaitu 1,15 meter x 2,25 meter dengan bahan katun primisima.

"Belajar membatik apalagi mengajari anak berkebutuhan khusus harus sabar dan pembelajarannya harus diulang–ulang supaya mereka para siswa paham dan setidaknya menguasai cara membatik," ujar Ruwi Suharyono seorang guru ketrampilan membatik kepada Tribun Jateng, Rabu (23/10/2013).

Hal yang paling sulit dalam mengajar batik adalah faktor komunikasi dengan para siswa yang notabe adalah siswa berkebutuhan khusus. Kita para guru harus bersabar dan selalu memberikan mereka motivasi yang lebih kepada para siswa.

Seorang siswa berkebutuhan khusus Diah Rahmawati (26) asal Kudus mengatakan, belajar membatik adalah sesuatu yang menyenangkan.

"Yang membuat saya bisa membatik adalah dorongan dan motivasi guru serta semangat dari teman-teman yang ada di sekolah ini. Mereka sudah mengubah segalanya, sekarang saya bisa sekolah sambil bekerja di sekolah ini,” katanya.

Sedangkan menurut dara asal Jepara Diah ayu rismawanti (26), membatik bukanlah sesuatu yang sulit, asalkan kita mau belajar dan senang pasti semuanya akan terasa mudah itu kuncinya.

Batik cipratan hasil karya SLB N Semarang sudah merambah ke beberapa wilayah di Indonesia seperti Aceh, Kalimantan, Jakarta, dan Papua. Bahkan ada beberapa wisatawan asing yang menyempatkan kunjungannya ke SLB sambil berbelanja batik, seperti dari Brunei Darussalam dan beberapa negara di Eropa.

Anak berkebutuhan khusus adalah pawang inspirasi. "Nurani mereka mengatakan "Diamku sedang berpikir, bicaraku sedang berzikir, segala polah tingkahku memberikan pembelajaran hidup dan kehidupan bagi orang-orang yang punya hati", ujar Ciptono perintis dan kepala sekolah SLB N Semarang.

Penulis: Hermawan Handaka
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
174643 articles 92 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas