• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Jateng

Sinopsis Film 12 Years a Slave: Kebebasan Lenyap di Tengah Perang Sipil

Rabu, 15 Januari 2014 18:54 WIB
Sinopsis Film 12 Years a Slave: Kebebasan Lenyap di Tengah Perang Sipil
net
12 Years a Slave 

PERBUDAKAN dan rasialisme merupakan dua hal paling menyedihkan dalam catatan sejarah umat manusia. Hal tersebut juga menjadi tema favorit para filmmaker untuk dijadikan basis kisah berkualitas yang tentunya menyentuh hati penonton.

Potret terbaru dari dua tema tersebut dapat dilihat dalam film 12 Years a Slave karya sutradara Steve McQueen. Film pemenang penghargaan Golden Globe 2014 kategori Film Drama Terbaik ini merupakan film yang diangkat dari kisah nyata Solomon Northup, seorang pria terhormat dari New York yang secara tiba-tiba direnggut kebebasannya dan dijual menjadi budak di Louisiana.

Di masa menuju perang sipil, Solomon Northup (Chiwetel Ejiofor) seorang ayah penyayang keluarga diculik dan dijual sebagai budak di Lousiana. Kehidupan Northup yang pada awalnya baik-baik saja, langsung berubah 180 derajat ketika ia harus berpindah dari satu majikan ke majikan lainnya.

Selama menjalani kehidupannya menjadi budak, tak jarang Northup mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari para majikannya, meski dirinya juga pernah merasakan kebaikan tak terduga setidaknya dari majikan pertamanya, William Ford (Benedict Cumberbatch) yang memperlakukannya dengan penuh respek.

Namun nasib membawanya ke pada majikan kejam Edwin Epps (Michael Fassbender), yang memperlakukannya seolah dirinya bukan manusia.

12 tahun hidup dalam sistem perbudakan, Northup menemukan secercah harapan ketika bertemu pejuang antiperbudakan, Bass (Brad Pitt). Pertemuan inilah yang akan mengubah jalan hidupnya.

12 Years a Slave merupakan film menyentuh yang akan membeberkan kekejaman dari sistim perbudakan yang memang pernah terjadi. Penonton dipastikan akan terenyuh melihat bagaimana kehidupan para budak yang seolah tidak berharga di mata majikan maupun orang yang memiliki kedudukan lebih tinggi.

Jika Django Unchained dan The Butler, yang memiliki tema serupa, mengemas tema yang berat ini dengan sentuhan humor, tidak demikian dengan film ini. Penonton benar-benar digiring untuk menyelami setiap sisi kehidupan para budak dengan nuansa yang cenderung melankolis sekaligus puitis.

Untuk membuat penonton terenyuh merasakan penderitaan para budak, tentu dibutuhkan performa akting luar biasa dari pemain. Pujian patut diberikan pada bintang utama, Chiwetel Ejiofor, yang membuktikan diri bukan sebatas ahli dalam berbagai peran pendukung saja.

Akting prima Ejiofor terlukis dari mimik wajahnya yang menggambarkan kegetiran sekaligus keputusasaan bahkan tanpa perlu mengeluarkan dialog apapun.

Performa Michael Fassbender pun terhitung apik memerankan majikan jahat yang semena-mena. Aktor yang sedang melejit ini membuktikan bahwa dirinya memang pantas masuk menjadi jajaran bintang kelas A Hollywood, dengan pertunjukan akting memukau dalam berbagai genre film yang ia mainkan.

Selain mampu mengeluarkan performa luar biasa dari seluruh pemain, sang sutradara, Steve McQueen, juga menawarkan berbagai pemandangan indah yang dijadikan latar film yang justru menambah kesenduan kisah ini. Bagi pecinta film berkualitas, 12 Years a Slave merupakan film yang sayang untuk dilewatkan. (dd)

Judul: 12 Years a Slave
Pemain: Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Brad Pitt, Sarah Paulson
Sutradara: Steve McQueen
Naskah: John Ridley
Distributor: Regency Enterprises, River Road Entertainment

Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jabar
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas