Smart Women

Shinta Tidak Canggung Langsung Jadi Kepala Apoteker

Saya harus mampu menjadi perwakilan Kimia Farma yang sudah dikenal masyarakat

Shinta Tidak Canggung Langsung Jadi Kepala Apoteker
Tribun Jateng/M Syofri Kurniawan
Shinta Dewi 

SECARA kasat mata, penampilan dara satu ini terlihat kalem dan tidak neko-neko. Sesekali, senyum manis tersungging di bibirnya saat berbincang dengan Tribun Jateng. Dara yang akrab disapa Tata ini menceritakan perjalanan karirnya sebagai apoteker muda.

Tahun ini, usianya menginjak 26 tahun. Namun, dia sudah cukup berpengalaman dalam mengelola apotek. Tidak tanggung-tanggung, apotek yang dia handle memiliki citra bagus secara nasional. "Saya harus mampu menjadi perwakilan Kimia Farma yang sudah dikenal masyarakat Indonesia," tegas pemilik nama Shinta Dewi ini.

Tata menyebut profesi apoteker yang dilakoni sebagai takdir. Dirunut dari perjalanan pendidikan, memang Tata memilih jurusan Farmasi seusai menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA). Di bangku sekolah, Tata memang suka pelajaran Kimia.

"Tadinya ada dua pilihan jurusan, Teknik Kimia dan Farmasi. Setelah dipikir, sepertinya Teknik Kimia akan didominasi laki-laki, akhirnya pilih Farmasi," jelasnya.

Orangtua pun mendukung pilihan Tata. Dia hampir gagal kuliah meski dinyatakan diterima di satu perguruan tinggi negeri. Pasalnya, saat bimbang dan mempertimbangkan kesempatan itu, daftar ulang sudah tutup. Akhirnya, Tata mendaftar dan diterima di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Empat tahun setelah masuk kuliah, tepatnya 2010, Tata menyandang gelar sarjana. "Tahun 2011, saya ambil program profesi apoteker dan lulus 2012," jelas dia.

Menapaki karir sebagai apoteker pun dimulai saat Tata diterima bekerja di Kimia Farma. Bahkan, dia langsung dipercaya mengelola apotek yang ada di Semarang. "Januari 2013 sampai sekarang saya ditugaskan sebagai kepala Apotek Fatmawati Semarang," tutur Tata.

Meski doa agar ditempatkan di Pulau Kalimantan tidak terkabul, dara kelahiran Pontianak ini tetap bersyukur. Apalagi, Semarang tidak begitu asing bagi dia. Adaptasi di Kota Lunpia juga tidak terlalu sulit. Penyesuaian diri terberat adalah lingkungan kerja yang didominasi senior. Namun, dia berhasil menguasai lingkungan kerja. "Saya tipe orang yang memerhatikan dulu, baru menentukan mana celahnya," aku dara yang tinggal di Pedurungan, Kota Semarang, itu.

Selama menjadi pimpinan, bukan berarti Tata tidak melakukan kesalahan. Dia pernah ditegur. Namun, Tata tidak menyerah dan merasa mendapat banyak pelajaran dari posisinya sekarang. Di antaranya, terkait pengelolaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memberi tantangan terbesar.

Di apotek yang dikelola, Tata membawahi empat staf. Yakni, tiga asisten apoteker dan satu resepsionis. "Sifat orang beda-beda, ada yang sudah punya inisiatif tapi ada juga yang harus dituntun. Perbedaan ini menuntut saya memperlakukan mereka secara berbeda pula," terang Tata.

Tata juga belajar terkait keuangan. "Manajemen keuangan harus tetap sehingga apotek untung," kata dara kelahiran 23 Juni 1988 itu.

Dalam menangani pasien, dia juga harus menerapkan standar operasional prosedur (SOP). Contohnya, mencatat data lengkap pasien sebelum memberi obat. Mulai tinggi badan, berat badan, dan riwayat kesehatan. "Kadang, di lapangan, pasien agak risih mengungkapkan identitas dirinya tetapi pelan-pelan diedukasi. Karena ini penting agar tidak terjadi kesalahan dalam memberi obat," jelas dia.

Bertemu pasien secara langsung merupakan hal paling menyenangkan bagi Tata. Meski terkadang, pasien yang datang tidak menunjukkan sikap ramah. "Bertemu pembeli obat secara langsung itu memberi rasa saya sebagai apoteker," tutur dara yang hobi jalan-jalan itu. (Tribun Jateng cetak/lin)

Penulis: herlina widhiana
Editor: agung yulianto
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved