Yuyu Sawah Antar Siswa SMAN 1 Semarang ke Taiwan

Dua siswa SMAN 1 Semarang, baru-baru ini menjuarai International Youth Invention Exibhition (IYIE) 2014 di Taiwan.

Yuyu Sawah Antar Siswa SMAN 1 Semarang ke Taiwan
Dua siswa SMAN 1 Semarang, diapit para guru, baru-baru ini menjuarai International Youth Invention Exibhition (IYIE) 2014 di Taiwan.

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Abdul Arif

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dua siswa SMAN 1 Semarang, baru-baru ini menjuarai International Youth Invention Exibhition (IYIE) 2014 di Taiwan. Kedua siswa tersebut  adalah Victorius Veinard Vingtsabta (17) dan Diana Ardelia (17) yang saat ini duduk di kelas XII SMAN 1 Semarang.

Mereka berhasil menggondol medali emas melalui penelitian yang cukup menarik. Yuyu atau yang biasa disebut kepiting di sawah yang mengandung ekstrak amilum dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas minyak kelapa.

Kepada Tribun Jateng, kedua siswa ini mengatakan, sebelumnya mereka mengkaji terlebih dahulu sebuah jurnal yang memuat penelitian yang sama. Hanya saja, penelitian tersebut menggunakan tidak melalui fermentasi.

"Penelitian ini hanya pengembangan saja," kata Victorius yang biasa disapa Veve ini didampingi guru pembimbingnya, Ratnaningsih, Selasa (18/2/2014).

Mulanya tim ini memiliki beberapa alternatif pilihan untuk penelitian tersebut. Namun akhirnya, pilihan jatuh pada yuyu. Alasannya, hewan tersebut merupakan hama di sawah bagi para petani. Sebab, hewan ini  memakan tanaman padi yang masih muda.

Veve mengatakan, di Kota Semarang yuyu masih mudah ditemukan."Kami mencari di persawahan dekat Bandara Ahmad Yani," ungkap Veve.

Ratna menjelaskan, yuyu yang digunakan harus dalam kondisi hidup agar zat kitin sebagai penghasil amilum lebih banyak dihasilkan. Saat proses pembuatan, kata dia, yuyu yang didapat akan langsung dipotong dan diambil isinya lalu dihaluskan sampai menjadi ekstrak.

"Untuk 500 gram kelapa tua parut yang sudah dikukus, dibutuhkan ekstrak yuyu sebanyak 10-15 persen dari kelapa. Kedua bahan tadi dicampur, kemudian difermentasi selama satu hari. Setelah itu dikeringkan dengan bantuan matahari untuk menghilangkan sisa kandungan air," ungkap Victorius.

Campuran fermentasi akan berbentuk seperti pasta. Saat dipegang ada minyak yang keluar. Jika sudah seperti itu, pasta tinggal diperas untuk menghasilkan minyak nabati.

Veve menyebut, keunggulan dari minyak yuyu tersebut adalah kandungan lemak jenuhnya yang rendah. Menurutnya, untuk menghasilkan minyak dari santan kelapa biasanya melalui proses pembakaran, sehingga lemak jenuhnya lebih banyak.

"Kalau yang kami lakukan adalah pengeringan alami menggunakan terik matahari. Kualitasnya pun bagus setelah diuji laboratorium. Minyak yang dihasilkan layak konsumsi. Warnanya jernih seperti minyak pada umumnya," tuturnya.

Diana mengatakan, kendala yang dihadapi selama proses penelitian tersebut adalah cuaca yang tidak mendukung, mengingat pengeringan menggunakan bantuan terik matahari.
Menurutnya, untuk diproduksi secara masif perlu dikembangkan lagi.

" Untuk proses pengeringansepertinya tidak efisien waktu. Jika harus dipanggang pun memerlukan suhu tertentu agar tidak gosong dan hasilnya sesuai dengan kualitas yang diharapkan," Diana.

Ratna mengungkapkan penelitian ini meraih tiga penghargaan sekaligus, yaitu gold medal dari IYIE,
spesial award from Qatar dan
spesial award from Malaysia.

Dia menuturkan, saat presentasi kedua siswanya berhalangan lantaran bertepatan dengan tryout yang digelar sekolah. Tim hanya mengirimkan materi berupa makalah dan produk yang dihasilkan. "Alhamdulillah, kami bisa meraih juara," kata Ratna.

Kepala SMAN 1 Semarang, Kastri Wahyuni yang juga mendampingi mengaku bangga atas prestasi yang diraih anak didiknya tersebut. Meski disibukkan persiapan UN, kata dia, motivasi untuk meneliti siswa cukup tinggi.

"Kami berharap, semangat ini menular kepada adik-adik kelas mereka," katanya. (*)

Penulis: abdul arif
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved