Lebih Dekat dengan Prof Arief Budiman di Salatiga

Lebih Dekat dengan Prof Arief Budiman di Salatiga, yang dulu kritis terhadap Pemerintah Orde Baru.

Lebih Dekat dengan Prof Arief Budiman di Salatiga
tribunjateng.com/yayan isro roziki
Prof Arief Budiman dan istri Leila Chairani Budiman, di Salatiga, Sabtu (4/10).

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Masih ingat dengan Arief Budiman? Dosen UKSW yang tinggal di Melbourne Australia sekaligus pengamat politik sering mengkritik pedas pemerintah Orde Baru.  Arief Budiman (73) yang dulu lebih sering tinggal di Australia kini menetap di Salatiga, meski 6 bulan di kota dingin ini dan 6 bulan di Australia.

Ketika Tribun Jateng mengunjungi kediamannya di Salatiga, wajah semringah dan bersahabat Prof Arief Budiman menyambutnya, didampingi sang istri Leila Chairani Budiman, Sabtu (4/10). Rumahnya yang asri, di Sidorejo Lor, Kota Salatiga yaitu rumah yang diarsiteki Romo Mangun Wijaya di atas lahan sekitar 3.000 meter persegi itu, berada di tengah perkampungan, berjarak hanya sekitar 500 meter, di sebelah timur Universitas Satya Wacana (UKSW) Salatiga.

"Enam bulan di sini, enam bulan di sana, sudah berlangsung sejak beberapa tahun belakangan ini," kata pria kelahiran Jakarta, 14 Januari 73 tahun silam. Hal ini dilakoninya usai pensiun sebagai dosen dari Melbourne University, pada 2009. Sebelumnya, sejak mengajar di negeri kanguru 1994, ia hanya tinggal di Salatiga, saat libur masa kuliah.

Menapaki usia yang lebih dari 73 tahun, kesehatan aktivis demonstran angkatan '66 tersebut, sudah banyak menurun. Memori dan ingatannya sudah tak begitu tajam, kedua tangannya, terutama sebelah kiri, sering bergetar lantaran terkena parkinson.

"Sekarang kegitan sehari-hari ya baca koran, majalah, sudah ndak aktif nulis. Saya ingin menikmati kemalasan, tapi kalau meladeni wawancara masih sering," ujar pria pemilik nama asli Soe Hok Djin yang juga kakak kandung Soe Hok Gie itu.

Diakuinya, usai pensiun dari Melbourne University sebenarnya ia lebih kerasan tinggal di Salatiga. Namun, sang istri tampaknya masih berat meninggalkan Melbourne.

"Di sana masih banyak kawan-kawan, masih sering menghadiri undangan pertemuan," tutur Arief, yang juga pernah mengajar di UKSW ini. Untuk mengobati rasa kangen, Arief dan Leila, biasanya membawa oleh-oleh khas Salatiga. Yang menjadi kegemaran adalah rengginan, penganan berbahan dasar ketan.

"Itu di koper sudah penuh dengan rengginan, kami suka, dan teman-teman di sana pasti nanyain ini (rengginan) kalau kami habis dari sini," ucap Leila.

Rencananya, pada Selasa (7/10), mereka akan kembali terbang ke Melbourne. "Mungkin Mei tahun depan sudah di sini lagi," ujar pasangan, yang dulunya merupakan teman sekelas semasa kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI).
Diakui, jaminan kesehatan dan masa tua, lebih tercukupi jika menetap di Australia. Namun, kecintaan dan kerinduannya untuk bisa menetap di tanah air tak bisa dibendung. Pada 2006, ia pernah mendapat penghargaan 'Bakrie Award' yang disponsori keluarga Bakrie. Ia sempat menganggap penghargaan tersebut sebagai sebuah penghinaan. (tribuncetak/yayan)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved