Leila Pernah Diusir karena Pacaran dengan Arief Budiman

Leila Pernah Diusir karena Pacaran dengan Arief Budiman. Dia diusir oleh keluarga. Namun akhirnya mereka luluh

Leila Pernah Diusir karena Pacaran dengan Arief Budiman
tribunjateng/yayan isro roziki
Prof Arief Budiman dan Leila Chairani istrinya di Salatiga 

TRIBUNJATENG.COM, SALATIGA- Siapa sangka Dosen UKSW Salatiga ini dulu adalah sosok bengal. Arief Budiman muda, atau Soe Hok Djin, sejak mula dikenal sebagai pemuda cerdas dan tukang protes.

Akibat terlalu sering protes, tak jarang, Arief dikeluarkan dosennya dari kelas saat menimba di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), lantaran terlampau sering protes.

"Sudah jadi makanan sehari-hari diusir dosen dari kelas, biasa saja. Kalau ada yang menurut saya tak benar, saya tak bisa berdiam diri saja," ujar Arief, mengenang masa mudanya.

Kecerdasan dan keberaniannya ini lah yang membuat Leila Chairani, temannya satu kelas jatuh hati. Saat Arief mengutarakan cintanya, tanpa pikir panjang perempuan berdarah Minang itu pun langsung menerimanya.

Kendati dikenal cukup vokal dan kritis, ternyata Arief muda cukup romantis, tatkala mengutarakan cinta kepada pujaan hatinya. "Saat itu, saya tembak Leila melalui sebuah buku kumpulan puisi 'Sanjak', karya saya sendiri," ucap pria yang ikut menandatangani Manifesto Kebudayaan, pada 1963 ini.

Diakui Leila, saat Arief mengungkapkan cinta kepadanya, ia sebetulnya masih mempunyai seorang pacar. "Demi Arief, saya putusin pacar saya," kata Leila, sembari tersenyum.
"Ya, pacar kamu waktu itu yang Indo itu kan?" sahut Arief. "Oh, bukan yang itu, masih ada lagi," ucap Leila, tersipu.

Diakui mereka, hubungan keduanya tak berjalan mulus. Kedua orangtua Leila murka, saat mengetahui anaknya berpacaran dengan Arief.

Semua pemberian kakak kandung Soe Hok Gie itu dibuang. Termasuk, kumpulan puisi 'Sanjak'. Namun, Leila bergeming, ia tetap memperjuangkan cinta Arief.

"Saya sempat diusir dari rumah, karena tak mau putus dengan dia," tutur Leila, sembari tangan kanannya menggengam tangan Arief.

Namun, melihat kegigihan keduanya mempertahankan hubungan percintaan, orangtua Leila pun akhirnya luluh dan merestui hubungan keduanya.

Rupanya, tak hanya Leila yang cinta mati, Arief pun demikian. Diceritakan, saat Orde Baru menerapkan asimilasi dan penggantian nama bagi warga Tionghoa, pada akhir 1960-an, Arief menentang keras.

Akan tetapi, lantaran diminta Leila untuk mengganti nama, karena tak ingin terus direcoki birokrasi, Arief pun luluh. "Nama Arief Budiman itu pemberian Leila, saya mau saja diminta pakai nama itu, kalau nggak nanti takut diputus," kata pencetus gerakan Golongan Putih (Golput) pada Pemilu 1973 itu, enteng. (Tribuncetak/Yayan isro roziki)

Penulis: yayan isro roziki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved