Pengalaman Mahasiswa Unissula Semarang Hampir Dipatok Ular

Pengalaman Wahyu Mega Lencana (25) Mahasiswa Unissula Semarang Hampir Dipatok Ular

Pengalaman Mahasiswa Unissula Semarang Hampir Dipatok Ular
tribunjateng/dok
FOTO DOKUMEN- Melani suka hewan piaraan ULAR PITON 

TRIBUNJATENG.COM - Ingat kejadian seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Cirebon tewas karena ular peliharaan, pekan lalu? Kejadian ini ternyata hampir pula dialami Wahyu Mega Lencana (25).

Beruntung, Wahyu yang saat itu masih duduk di bangku kuliah D3 Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini berhasil menjinakkan hewan kesayangan sebelum melukai.

Wahyu bercerita, kejadian tersebut dialami pertengahan 2014 lalu. Saat itu, pecinta binatang pengerat dan reptil ini pulang selama tiga hari karena perkuliahan libur. Lantaran tak bisa membawa ular peliharaan jenis piton sanca kembang atau green tree python pulang kampung ke Blora, Wahyu menitipkan ke seorang teman yang tinggal tak jauh dari kampus. Dia meletakkan piton ini ke boks plastik transparan.

Mahasiswa yang kini melanjutkan pendidikan S1 Teknik Sipil di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang itu berpesan kepada sang teman agar rutin memberi makan dan membersihkan kandang. "Kalau mau membersihkan kandang piton, penutup kandang harus dibuka kemudian dibersihkan. Namun, teman saya takut ular sehingga kandang tidak dibersihkan," kata Wahyu kepada Tribun Jateng, Rabu (28/1).

Saat kembali ke Semarang, Wahyu pun langsung ingin membersihkan kandang hewan kesayangan. Saat Wahyu membuka penutup kandang, tubuh si piton panjang sekitar 3 meter itu langsung melingkar dan kepala tegak membentuk letter 'S'.

"Kalau ular sudah pasang kuda-kuda seperti itu tandanya dia dalam posisi bertahan dan siap menyerang. Dalam posisi seperti itu, ular bisa menyerang dari jarak jauh karena posisinya yang melingkar itu," imbuh mahasiswa yang saat ini indekos di Kelurahan Bangetayu, Genuk, Kota Semarang.

Wahyu yang kaget melihat sang ular berubah agresif dalam waktu tiga hari, langsung mencari cara menjinakkan. Pasalnya, kendati tidak berbisa, gigitan piton ini bisa mengakibatkan pendarahan, luka sobek dan trauma lokal jika tidak ditangani secara baik. Apalagi, dia mengerti, ada dua kemungkinan saat si piton menyerang.

Pertama, piton menggigit kemudian langsung dilepaskan. Atau kedua, menggigit dan langsung menancap dan mengunci. Seperti halnya mata pancing, jika ular langsung ditarik, luka akibat gigitan akan semakin lebar. "Setelah menggigit biasanya langsung membelit. Jika membelit di bagian leher tentu berakibat fatal karena tidak bisa bernapas," ujar Wahyu.

Dia pun bersusah payah memegang kepala secara hati-hati dan lembut. Cara ini diyakini mengembalikan kejinakan sang ular. Usahanya pun berhasill. Wahyu selanjutnya memindahkan piton ke kandang lain yang bersih dan kandang kotor segera dibersihkan. (tribunjateng/mamduh adi p)

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved