Liputan Khusus

Jaringan Debt Collector Nakal Perdaya Nasabah dan Leasing

Sejumlah debt collector (DC) nakal terlibat jaringan jual beli motor sitaan. Mereka menjual motor hasil sitaan dengan harga murah atau mempretelinya.

Jaringan Debt Collector Nakal Perdaya Nasabah dan Leasing
tribunjateng/muh radlis
Para penagih utang atau yang biasa disebut debt collector yang mangkal di Jalan Kartini dan Citarum dikumpulkan dan didata Polsek Gayamsari, Selasa (11/8/2015). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Sejumlah debt collector (DC) nakal terlibat jaringan jual beli motor sitaan. Mereka menjual motor hasil sitaan dengan harga murah atau mempretelinya.

Seorang mantan debt collector, sebut saja Ronald, membeberkan masih banyak oknum DC yang mencari tambahan penghasilan dengan cara kotor. "Ada kerjaan lain, yaitu mencari untung dengan jual mesin motor hasil sitaan atau menjual motor baru hasil sitaan," kata Ronald pada Tribun Jateng, pekan lalu.

Ronald mengaku juga melakukan praktik itu ketika masih aktif menjadi DC. Ia menceritakan begitu berhasil menyita, belum tentu sepeda motor langsung dikembalikan ke perusahaan leasing. Bersama temannya, Ronald terlebih dulu menuju ke pusat jual beli mesin sepeda motor di kawasan Semarang timur. Di sana, ia dan teman DC lainnya menukar mesin sepeda motor sitaan. "Mesin-mesinnya diganti motor China. Bisa juga sampai bodinya diganti total. Yang penting masih bisa jalan. Saya pernah dapat keuntungan Rp 3 juta," katanya.

Tidak semua DC mengganti total mesin motor hasil sitaan. Kadang hanya beberapa bagian mesin saja yang diganti. Penggantian mesin sesuai permintaan.

Ronald mengatakan aksi mereka berjalan aman karena dalam perjanjian, pihak leasing menerima apapun kondisi sepeda motor sitaan. Hal itu yang dimanfaatkan para kolektor berbuat curang. "Lagian pemilik kan juga engga bakal telepon leasing karena mereka merasa salah. Leasing juga tidak akan menelepon konsumen untuk tanya kondisi kendaraan," jelasnya.

Bahkan ada oknum DC menjual kembali sepeda motor hasil sitaan beserta Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). "Ada yang jual motor matic Rp 5 juta. Baru kemarin teman DC yang nawari saya Megapro baru sekitar Rp 8 jutaan," katanya.

Roland sendiri selama ini tidak berani menjual sepeda motor hasil sitaan karena ia menganggap sangat beresiko. “Pembeli sepeda motor sitaan bisa kena sial. Jika masih menggunakan pelat nomor asli, bisa jadi DC lain akan menyita sepeda motornya. Pembeli tidak tahu apa-apa. Saya kasihan pada mereka yang telanjur beli," ucapnya.

Ia menambahkan sejumlah DC juga ada yang nekat mendirikan usaha jual beli sepeda motor hasil sitaan. “Ada yang berani menjadi penadah sepeda motor pedotan (hasil sitaan) itu,” katanya. (*/tim)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help