TribunJateng/

Alfiyah Ashmad, Santriwati yang Mendunia Jadi Konsultan PBB

Alfiyah Ashmad, Santriwati yang Mendunia Jadi Konsultan PBB

Alfiyah Ashmad, Santriwati yang Mendunia Jadi Konsultan PBB
tribunjateng
Alfiyah Ashmad, Santriwati yang Mendunia Jadi Konsultan PBB 

TRIBUNJATENG.COM - Menulis menjadi kegiatan wajib bagi Alfiyah Ashmad (38), seorang perempuan konsultan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) wakil dari Indonesia. Menulis tentang kultur Indonesia membuat Alfi, panggilannya, menjadi satu dari dua konsultan wanita pertama di Indonesia.

Perempuan lulusan Antropologi di Oxford University tahun 2008 ini sudah bekerja sebagai konsultan PBB selama 6 tahun. Berkat kemampuan menulis dan ilmu yang didapat selama dua tahun belajar di Inggris, Alfi ditugaskan menjadi konsultan perwakilan dari Indonesia sejak dua bulan sebelum pulang ke Indonesia.

Alfi menulis laporan tentang kultur, keberagaman, kelebihan, dan kekurangan dari Indonesia dan dikirim ke seluruh konsultan di berbagai belahan dunia. Begitu juga sebaliknya, Ia juga mendapat laporan dari berbagai negara terkait dengan kebudayaan, kelebihan, dan kekurangannya.

Metode inilah yang digunakan oleh PBB untuk memberi solusi dalam berbagai aspek kehidupan dari satu sama lain untuk memajukan negara-negara berkembang di seluruh dunia. Alfi seringkali ditugaskan oleh pihak PBB ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Selama tiga tahun terakhir, ibu dari dua anak ini telah bekerja di Nanggroe Aceh Darussalam, Nusa Tenggara Timur, dan Papua.

Alfi tak hanya dikenal sebagai ‘orang Inggris’ di lingkungannya. Berkat kemampuan menulis dan berbahasa Inggris yang memadai, perempuan kelahiran Jombang, 12 April 1976 ini kerap menjadi editor dari berbagai buku yang diterbitkan oleh pondok pondok pesantren di Jombang. Ia juga rajin mengadakan seminar dan pelatihan menulis untuk para santri. Ia ingin menularkan kemampuan menulis dan giat berbahasa Inggris.

“Santri-santri di sini adalah calon penerus bangsa. Jangan dikira santri itu hanya bisa melulu dengan kitab-kitab agama yang klasik. Justru santri adalah orang-orang yang bisa cepat memahami tentang karakter tiap orang dari latar belakang lingkungan yang berbeda”, ujar perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di pondok pesantren Tambakberas Jombang selama 8 tahun.

Perempuan keturunan Madura ini menganggap bahwa menjadi santri adalah awal yang baik untuk bersosialisasi di masa mendatang. Dari pengalamannya sebagai santri, Alfi mendapat banyak ilmu yang sifatnya sosial dan tak tertulis di buku manapun. Baginya santri adalah orang yang mandiri, dewasa, dan tak manja jika dibandingkan anak lain. Alfi mencintai pekerjaan yang ia jalani sekarang.

Ia merasa senang bisa mengabdi dan membantu memperbaiki kekurangan-kekurangan di Indonesia. Selain itu, Ia juga membuktikan pada dunia bahwa santri tidak hanya bisa mengaji dan pintar dalam ilmu agama saja, tetapi santri juga berpotensi sebagai penggerak dalam perubahan untuk lingkungan.

“Alhamdulillah, sejauh ini keluarga sangat mendukung setiap kegiatan yang saya lakukan. Selama hal ini positif dan anfa’uhum linnnaas mereka bisa memahami, terutama kedua anak saya yang tidak rewel kalau saya sedang tugas di luar pulau,” ujarnya. (Laporan Zahra Sheya mahasiswa UIN Walisongo magang di Tribun Jateng).

Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help