Babahe Lauching Buku Gurit 55 Dolanan Sing Ilang, Sing Diilangna
Dalam mengumpulkan lagu permainan ia selalu menulis apa yang diingat nya dan mencari-cari di google dan dibetulkan seingatnya.
Penulis: rahdyan trijoko pamungkas | Editor: Catur waskito Edy
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Widyo Babahe Leksono pengarang buku yang berjudul 'Gurit 55 Dolanan Sing Ilang,Sing Diilangna' yang di launching pada museum Kartini Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) (18/12/2015).
Widyo Babahe Leksono yang mempunyai nama asli Widyo Leksono lahir pada tanggal 19 Desember 1960 di Desa Portoyudan,Jepara.
Buku Gurit 55 Dolanan Sing Ilang,Sing Diilangna berisi tentang membiasakan anak-anak untuk menggunakan bahasa Jawa. Arti dari geguritan itu sendiri adalah puisi Jawa.
Selain itu juga mengingatkan yang tua untuk mengenalkan kepada yang muda tentang tembang (lagu), dolanan (mainan), tembang dolanan (lagu mainan) yang sekarang sudah hilang.
Gurit 55 Dolanan Sing Ilang, Sing Diilangna merupakan Buku yang ke 25. Buku yang sudah terbit jenisnya novel anak, dongeng bahasa Jawa, kumpulan naskah bahasa Jawa, pembelajaran teater, sosiodarma.
Geguritan kebanyakan diterbitkan sendiri. "Totalnya tidak sampai habis sejuta", ujarnya Babahe.
Dia mengaku akan menjual ke jejaring. Buku tersebut dijual Rp 25.000. Kepinginnya umur 55 bukunya 55 kalau gitu masih hutang 30 buku artinya evaluasi diri juga diusia 55 dan ada cacatan setiap tahun .
Dalam mengumpulkan lagu permainan ia selalu menulis apa yang diingat nya dan mencari-cari di google dan dibetulkan seingatnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/widyo-babahe-leksono_20151219_091058.jpg)