Kasus Fasilitas Pacuan Kuda Tengaran, Agus Yuniarto Dituntut 18 Bulan Penjara

Kasus Pacuan Kuda Tengaran, Agus Yuniarto Dituntut 18 Bulan Penjara

Kasus Fasilitas Pacuan Kuda Tengaran, Agus Yuniarto Dituntut 18 Bulan Penjara
youtube
ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Agus Yuniarto, Komisaris PT Tegar Arta Kencana langsung menyatakan akan mengajukan pembelaannya atas tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Ambarawa. Pembelaannya akan disampaikan secara pribadi dan melalui penasehat hukumnya dalam sidang pekan depan.

"Kami akan sampaikan pembelaan yang mulia," kata Agus Yuniarto dalam sidang tuntutan kasus dugaan korupsi proyek pembangunan fasilitas pendukung pacuan kuda Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang tahun 2012 di Pengadilan Tipikor Semarang, kemarin.

Agus Yuniarto adalah terdakwa dalam kasus tersebut. Oleh JPU, Agus yang juga terpidana 2 tahun atas korupsi pembangunan sarana dan prasarana (sarpras) GOR Indoor Salatiga tahun 2011 itu dituntut pidana penjara selama 1 tahun 6 bulan atau 18 bulan penjara.

Jaksa menilai terdakwa Agus Yuniarto terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan korupsi melanggar Pasal 3 UU nomor 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah UU nomor 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP sesuai dakwaan subsidair.

"Menuntut, majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan terhadap terdakwa Agus Yuniarto," kata Sulistyo Utomo, dalam sidang yang dipimpin hakim Alimi R Sardjono. Selain pidana badan, terdakwa juga dituntut pidana denda sebesar Rp 50 juta subsidair 3 bulan kurungan. Ia juga dituntut tambahan pidana membayar uang pengganti kerugian negara sekitar Rp 120,3 juta subsidair 3 bulan kurungan.

Jaksa Sulistyo menilai, terdakwa Agus bersama dengan Ade Fadjar Wiradi Djati menyalahgunakan wewenang. Akibat perbuatannya, negara dirugikan sekitar Rp 208,3 juta sesuai audit BPKP Jateng. "Dalam penyidikannya, terdakwa Agus telah mengembalikan Rp 88,2 juta Maret 2015 lalu dan masih sisa Rp 120,3 juta. Karena itu, sisa kerugian negara wajib dikembalikan terdakwa," ucapnya.

Korupsi proyek ini terjadi tahun 2012 atas pengadaan lintasan dan sarana pendukung pacuan kuda Tegalwaton dengan anggaran sebesar Rp 12,8 miliar dari APBD-P Jawa Tengah Tahun 2012. Selain itu juga dialokasikan APBD Kab Semarang TA 2012 sebesar Rp 400 juta, terdiri atas perencanaan DED dan konsultan pengawas masing-masing Rp 200 juta.

Korupsi oleh terdakwa Agus terjadi atas kelebihan bayar pekerjaannya yang telah dinilai 100 persen dan telah dibayarkan kepadanya. Pembayaran diterima Widayati, Direktur PT Tegar Arta Kencana yang juga mantan istri terdakwa. Widayati sendiri terlibat saat penandatanganan kontrak.

Pelaksanaannya, pekerjaan proyek belum 100 persen dan terlambat pengerjaannya. Namun, pekerjaan telah diserahterimakan kepada PPKom dengan keterlambatan 50 hari dengan kewajiban membayar denda Rp 300 juta. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved