Theresia Tarigan : Lebih Baik Pakai Selter dan Bus Rendah

Bus yang kadang tidak berhenti tidak terlalu rapat dengan selter membuat kekhawatiran sendiri bagi penumpang terutama bagi ibu bawa anak

Theresia Tarigan : Lebih Baik Pakai Selter dan Bus Rendah
tribunjateng/WAHYU SULISTYAWAN
SHELTER BRT - Dua remaja menunggu kedatangan Bus Rapit Transit (BRT) di jalan Pemuda, Kota Semarang 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Koordinator Koalisi Pejalan Kaki Semarang (KPKS), Theresia Tarigan, menilai keberadaan selter dan bus BRT saat ini belum mengutamakan keselamatan penumpang.

"Bus yang kadang tidak berhenti tidak terlalu rapat dengan selter membuat kekhawatiran sendiri bagi penumpang terutama bagi ibu bawa anak, ibu hamil, manula, dan difabel. Orang sudah grogi duluan ketika akan naik bus. Sehingga jatuhnya penumpang saat naik bus bisa saja terulang kembali," jelasnya, Rabu (6/4/2016).

Saat ini, imbuhnya, beberapa titik selter dipakai untuk tempat parkir kendaraan. Sehingga mengharuskan bus berhenti tidak di depan selter. Untuk penumpang manula dan difabel tentu akan menyulitkan untuk naik ke bus. Apalagi bus belum ada plat khusus untuk akses naik difabel yang memakai kursi roda. Fasilitas pendukung masih minim.

"Saya menyarankan bagi pengelola BRT untuk pengadaan koridor dan bus baru menggunakan selter dan bus rendah. Pengelola bisa menyontoh keberadaan selter dan bus di Singapura yang rendah," sarannya.

Menurutnya, pembuatan selter tidak perlu mahal, yang penting mengutamakan kenyamanan penumpang. Hal ini untuk pencegahan agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Di dalam bus juga disediakan kursi penumpang khusus untuk ibu hamil, manula, dan difabel. Ketika penumpang normal menduduki kursi tersebut dan ada penumpang khusus maka harus mengalah.

"Saya mengapresiasi respon pengelola yang langsung membawa penumpang terjatuh ke rumah sakit. Ini merupakan salah satu pelayanan yang memang seharusnya dilakukan pengelola BRT. Saya pernah kehilangan kunci mobil saat menggunakan BRT. Ketika saya komplain melalui media sosial pengelola juga sudah berupaya mencari di dalam bus. Namun tetap tidak ditemukan. Dan ternyata ditemukan di sekitar selter oleh seseorang dan dikembalikan ke saya," tandasnya. (*)

Penulis: galih permadi
Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help