TribunJateng/

Hari Kartini

Ketika Perempuan Tuna Aksara

Ketika Perempuan Tuna Aksara

Ketika Perempuan Tuna Aksara
net
FARHA BAQISMAH penulis OPINI 

Opini Ditulis oleh Farha Biqismah

Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits Fakultas Ushuluddin dan Humaniora di UIN Walisongo Semarang

TRIBUNJATENG.COM - Berdasarkan data dari UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) pada tahun 2012 menyebutkan, hanya 17 persen penduduk Indonesia berusia 10 tahun ke atas yang gemar membaca. Data tersebut menunjukkan bahwa penduduk Indonesia tergolong rendah minat bacanya. Salah satu pemicu angka presentase yang rendah itu adalah karena hanya 65 persen orang dewasa Indonesia yang melek huruf, jumlah ini jauh dari negara tetangga, yakni Malaysia yang sudah mencapai 86 persen.

Terdapat sekitar 65 persen penduduk Indonesia melek huruf. Ini artinya, masih ada sekitar 35 persen lagi penduduk Indonesia baik orang dewasa, remaja, dan anak-anak yang mengalami tuna aksara. Berdasarkan data tersebut, ada hal yang mencengangkan. Betapa tidak. Menurut Menteri Sosial Khafifah Indar Parawansa, jumlah perempuan tuna aksara di Indonesia saat ini masih cukup banyak, yaitu 12, 28 persen.

Faktor Penyebab

Dari data di atas, tentunya terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Pertama, paradigma keliru. Meskipun zaman sudah modern, akan tetapi masih terdapat paradigma perempuan yang keliru. Mereka masih menganggap bahwa perempuan hanya berkutat pada sumur, dapur, dan kasur, sehingga memperkaya diri dengan banyak membaca dianggap tidak memiliki manfaat yang besar baginya. Hal ini juga berkaitan dengan sejarah masa lalu.

Di dalam kitab Munjiyat karya Syekh Shaleh Darat seorang ulama fenomenal di tanah Jawa diterangkan bahwa perempuan dilarang belajar baca dan tulis. Akan tetapi, masyarakat hanya menelan mentah-mentah pernyataan tersebut. Padahal, tujuan dari pernyataan itu adalah untuk menjaga perempuan pada masa itu. Sebab, jika perempuan bisa baca dan tulis, mereka dapat membalas surat dari penjajah dan pada akhirnya mereka termakan penjajah itu untuk dijadikan pemuas nafsunya.

Kedua, lingkungan. Berdasarkan kondisi lingkungan yang terjadi di berbagai daerah Indonesia, masih banyak perempuan khususnya yang tinggal di daerah pedesaan kental dengan budaya ngerumpi. Budaya suka berkerumun tanpa manfaat itulah yang menyebabkan rendahnya kualitas kaum hawa. Mereka lebih gemar berkerumun dan menonton televisi, dibandingkan membaca.

Ketiga, minimnya fasilitas. Di daerah-daerah tertinggal, sarana dan prasarana memang menjadi kendala bagi masyarakat tersebut. Dalam hal ini pemerintahlah yang harus bertindak. Lemahnya pendidikan di daerah pinggiran kurang mendapatkan perhatian dari pemerintahan. Mengingat problematika yang dihadapi Indonesia sangat banyak dan rumit, sehingga masyarakat yang jauh dari jangkauan menjadi korbannya.

Penentu Generasi

Halaman
12
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help