Hari Kartini

RA Kartini Meninggal Dunia Empat Hari Setelah Melahirkan Anak Tunggal

RA Kartini Meninggal Dunia Empat Hari Setelah Melahirkan Anak Tunggal

RA Kartini Meninggal Dunia Empat Hari Setelah Melahirkan Anak Tunggal
TRIBUNJATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO
Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi, saat menunjukkan kamar pingit Kartini, Kamis (21/4). 

TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Kamar pingit RA Kartini berada di sisi bangunan belakang rumah dinas Bupati Jepara saat ini atau di belakang Pendopo Kabupaten Jepara Jalan Kartini No 1. Bagaimana kondisinya sekarang?

RA Kartini lahir pada 21 April 1879 silam di Desa Mayong, Kecamatan Mayong, Jepara. Setelah ayahnya, RMA Ario Sosroningrat diangkat menjadi Bupati Jepara kala itu, ia pun harus pindah ke rumah dinas di Kecamatan Jepara Kota.

Sebagai gadis dari keluarga bangsawan, pada usia 12 tahun, Kartini sudah harus menjalani masa pingitan. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, menunggu lamaran seorang bangsawan. RA Kartini pun banyak beraktivitas di satu kamar berukuran 3x4 meter.

Kamar tersebut kini berisi satu kursi, meja, rak, ranjang tempat tidur dan beberapa lukisan yang menggantung di tembok. Kamar itu bercat kuning kecokelatan, beberapa ornamen ada di dalamnya. Kursi dan meja yang digunakan Kartini saat menulis surat juga ada. Ada pula ranjang kayu berukir yang merupakan tempat tidur Kartini. Kotak kayu kecil untuk menyimpan surat masih ada di dekat meja.

"Semua benda yang ada di kamar merupakan replika benda peninggalan Kartini. Yang asli masih ada, dipegang keluarga, ada juga yang dipajang di museum," kata Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi, saat menunjukkan kamar pingit Kartini, Kamis (21/4).

Semua tata letak dan penempatan benda yang ada masih seperti aslinya. Hanya ada sedikit pengembangan pada fisik bangunan. Saat ini ada ruangan tambahan di samping kamar pingit. Satu pintu berukuran besar dibangun sehingga ada dua pintu di kamar pingit.

Pada masa itu Kartini memulai korespondensi dengan sejumlah kenalan di luar negeri. Satu meja yang ada di kamar pingit digunakan Kartini untuk menulis surat. Di kamar ini juga, ia belajar melukis dan membatik. Replika hasil lukisan dan kain batik juga ada di kamar tersebut. "Di kamar ini, Kartini mulai berjuang. Dari meja di kamar ini Kartini menulis surat berisi keluh kesahnya tentang nasib para perempuan di Nusantara," terang Marzuqi.

Karena mahir berbahasa Belanda, Kartini bisa menulis surat untuk kenalannya di Belanda, antara lain JH Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda beserta istrinya, Rosita Manuela Abendanon-Mandri.

Kepada Ny Abendanon, Kartini mencurahkan suka duka kehidupannya. Surat-surat dalam bahasa Belanda inilah yang kemudian dikumpulkan Abendanon dan diterbitkan menjadi satu buku berjudul Door Duisternis tot Lich yang artinya Dari Kegelapan Menuju Cahaya pada 1911.
Selanjutnya diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris menjadi Letters of a Javanese Princess (Surat Seorang Putri Jawa), dan ke dalam Bahasa Indonesia berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang pada 1922 oleh Balai Pustaka.

Kesepian

Kartini menamatkan pendidikan sekolah dasar di usia 12 tahun. Setelah itulah Kartini remaja menjalani masa pingitan. Perempuan kelahiran 21 April 1879 itu harus meniggalkan teman-teman sebayanya. Ia merasa kesepian karena tidak bisa melanjutkan pendidikan. Beruntung, Kartini kerap mendapatkan surat dari kakaknya, Sosrokartono yang tinggal di Eropa tentang pengalaman hidup di sana. Sehingga Kartini bisa mengetahui dunia luar meskipun hanya hidup di dalam kamar.

Masa pingitan Kartini berakhir pada usia 24 tahun. Kartini disuruh menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan memberi kebebasan Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama Kartini dan sekaligus anak terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang. "Benda-benda peninggalan Kartini di kamar pingit ini juga ada yang dibawa ke Rembang setelah Kartini menikah," jelas Bupati Jepara Marzuqi. Marzuqi ingin kamar pingit Kartini ini menjadi benda cagar budaya sehingga lestari untuk anak cucu.(tribunjateng/mamdukh adi)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help