TribunJateng/
Home »

Jawa

Pria Asal Bangkalan Ini Mengaku sebagai Nabi Isa. Ini yang Dilakukan Usai Terima 'Wahyu'!

Setelah itu, sebutnya, ia memberitahu orang tuanya, dalam hal ini ibunya. Selanjutnya keluarga, saudara, dan kerabat-kerabat dekatnya.

Pria Asal Bangkalan Ini Mengaku sebagai Nabi Isa. Ini yang Dilakukan Usai Terima 'Wahyu'!
SURYA/AHMAD FAISOL
Nur Tajib tengah diperiksa di ruang penyidik Polres Bangkalan, Sabtu (23/4/2016). 

TRIBUNJATENG.COM, BANGKALAN - Nur Tajib (50), warga Desa Patereman, Kecamatan Modung Bangkalan Madura, mengaku sebagai Nabi Isa setelah mendapat perintah Allah pada November 2014 silam.

"Diperintah Allah untuk mengabarkan kepada umat siapa diriku. Diperintah Allah mengabarkan keberadaanku," ungkap Nur Tajib di hadapan penyidik Polres Bangkalan, Sabtu (23/4/2016).

Setelah itu, sebutnya, ia memberitahu orang tuanya, dalam hal ini ibunya. Selanjutnya keluarga, saudara, dan kerabat-kerabat dekatnya.

"Ibu saya masih ada. Bahwa sebenarnya saya dilahirkan oleh ibuku. Allah menyatakan wujud (Nabi) Isa seperti yang pernah disampaikan Nabi Muhammad," jelasnya.

Ia mengaku, perintah menyampaikan hal tersebut diakuinya sangat berat dan penuh risiko tinggi. "Meskipun saya tahu bukan hal mudah dan gampang. Tapi karena saya harus taat kepada Allah, (saya sampaikan) dengan segala rasa berat dan kesulitan," ujarnya.

Seorang warga setempat MH (49), Nur Tajib pernah lama menghilang namun sekitar setahun yang lalu baru kembali.

"Setelah kembali ke desa, ia bisa mengobati dengan metode alternatif. Tidak ada pondok namun ada beberapa pengikutnya, belum banyak," ujar MH.

Melalui pengobatan alternatif itu Nur Tajib disebutnya tidak menarik uang atau menerima pemberian berupa barang. Pasien yang sembuh cukup bersedia ikut menjadi jamaah pengajian yang ia pimpin.

"Tentu saja kalimat syahadatnya beda. Pengikutnya mayoritas berasal dari keluarga dan kerabat terdekatnya dari Blega dan Modung," ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Bangkalan AKBP Windianto membenarkan bahwa ajaran yang disampaikan Nur Tajib terdapat perbedaan tatanan dalam beribadah maupun dalam pengucapann kalimat syahadat dengan ajaran Islam umumnya.

"Membaca syahadat sambil menunjuk kepada dia. Terus dalam shalat berjemaah, di belakang imam ada bilal. Keduanya bergantian (bersautan) membaca bacaan shalat," paparnya.

Windianto menambahkan, sepak terjang Nur Tajib sebenarnya sudah terpantau sejak lama. Namun ketika hendak ditemui, ia menghilang dan kembali lagi mengadakan pengajian bersama jemaahnya. "Pengikutnya sekitar 30 orang," ucapnya. (Ahmad Faisol)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help