TribunJateng/

Kembangkan Strawberry Petik Sendiri di Lereng Merbabu

Sejumlah orang mengembangkan lahan pertanian di lereng Gunung Merbabu untuk wisata pertanian atau agrowisata.

Kembangkan Strawberry Petik Sendiri di Lereng Merbabu
tribunjogja/agungismiyanto
Sejumlah wisatawan sedang menikmati wisata strawberry petik sendiri yang dikembangkan di kawasan Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, belum lama ini. Wisata ini terletak di dekat gardu pandang Ketep Pass. 

TRIBUNJATENG.COM, YOGYA - Sejumlah orang mengembangkan lahan pertanian di lereng Gunung Merbabu untuk wisata pertanian atau agrowisata.
Meski kerap dihadang cuaca dan panen yang kurang maksimal, namun wisata Strawberry petik sendiri di Desa Banyuroto, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang menunjukkan “keperkasaan” warga sekitar memberikan alternatif wisata dan pengetahuan bertani bagi masyarakat.
Hawa dingin menusuk kulit saat kaki melangkah di sela ratusan karung tanaman strawberry di sebuah lahan pertanian Desa Banyuroto.
Sejumlah pasangan muda mudi asyik bercanda, berfoto selfie, sembari memetik buah berwarna merah yang terasa asam manis di lidah ini.
Lahan pertanian yang berisi ratusan bahkan ribuan tanaman strawberry ini memang sepintas seperti tanaman biasa. Namun, ide pengembangan agrowisata ini menjadi sebuah konsep original dan unik di Kabupaten Magelang.
Tak banyak yang mengembangkan konsep petik tanaman buah sendiri ini, hanya bermodalkan kepercayaan pada pembelinya.
Yanto, Kepala Desa Banyuroto, merintis agrowisata ini dengan mengorbankan lahan pertanian miliknya sebagai tempat eksperimen.

Tahun 2006 silam, dia berupaya untuk membuka mindset petani di daerahnya yang saat itu hanya bertani sayuran.
“Awalnya memang saya melihat ada potensi pertanian dan sinergis dengan wisata. Apalagi dekat dengan objek wisata Ketep Pass. Tentu saja, nilai ekonomis dari tanaman ini cukup tinggi,” katanya kepada Tribun Jogja, belum lama ini.
Akhirnya, pada tahun itu juga, dia bersama beberapa petani lain mengembangkan tanaman ini. Untuk bibir strawberry dibelinya dari hasil tukar pengetahuan dengan petani dan kelompok tani di Bandung, Jawa Barat.
Tak semudah membalik telapak tangan, pengembangan agrowisata ini kerap menemui aral rintangan.
Merugi, adalah salah satu kendala yang dihadapi petani dan Yanto seiring mengembangkan bisnis agrowisata mandiri ini. Namun, seperti hukum alam, siapa yang bisa beradaptasi, dia yang bertahan.
“Meski kerap merugi, saya masih terus bertahan dan konsep saya tetap saya pertahankan demi sebuah pembaharuan wisata di Banyuroto,” ujar pemilik wisata strawberry petik sendiri Inggit ini.
Perlahan tapi pasti, wisatawan yang belum melirik agro wisata ini, akhirnya mulai tertarik.

Mereka mulai berani memarkirkan sepeda motor mereka, menenteng keranjang kecil dan gunting untuk mulai memburu buah yang dipercaya mengandung banyak vitamin C ini.
Gairah wisata ini terus menggeliat, Yanto pun kerap melakukan studi banding dan juga pembaharuan sistem tanam di ladang strawberry seluas 1 hektar miliknya ini.
Dia mulai berani menanam lebih dari 20.000 bibit tanaman ini untuk dikembangkan dan takut merugi.
Kini, dia mengembangkan tanaman dan konsep wisata petik sendiri ini di tiga lahan miliknya, satu lahan merupakan bengkok. Dia pun mampu menyerap tenaga kerja hingga 20 orang untuk mengurusi kebun tersebut.
Untuk wisatawan yang akan memetik sendiri ini, memang dianjurkan memetik buah yang benar-benar masak.
Sehingga, pertumbuhan strawberry akan menjadi baik dan benar-benar masak saat dipetik. Sementara, untuk sistem pertanian, Yanto mengembangkannya dengan semi organik.
“Saya memupuk tanaman ini dengan pupuk kandang, sistem semi organik yang saya terapkan,” papar pria kelahiran 12 Mei 1976 ini.

Bapak berputra tiga ini mengatakan, dalam seharinya ada 50 hingga 100 orang yang berkunjung. Namun, hal ini tergantung dari cuacanya.
Jika hujan, maka tidak banyak wisatawan yang datang. Apalagi, jika buah strawberry sedang tidak banyak berbuah. Untuk harga per kilogramnya, wisatawan harus merogoh kocek Rp 60 ribu.
Tak jarang, dia akhir pekan atau hari libur, kunjungan bisa mencapai 500 orang per harinya.
Biasanya, para wisatawan yang datang adalah keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak-anak. Yanto pun mengaku senang karena konsep agrowisata ini bisa bersifat edukatif bagi anak-anak.
“Sisanya, bisa menjadi wisata bagi pasangan dan prewedding. Bahkan, pernah ada yang membuat film di lahan ini,” ucapnya.
Untuk pengembangan tanaman ini, Yanto juga sudah mulai mengembangkan keripik daun strawberry dan dodol strawberry.
Usaha kecil ini mampu menghidupkan ekonomi dan juga menjadi mata pencaharian warga sekitarnya. (tribunjogja.com)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help