Kelompok Tani Ternak di Getasan Keluhkan Kurangnya Dokter Hewan

Bidang Eksternal BEM Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Undip mengadakan kunjungan dan survey di Kelompok Tani Ternak (KTT) Sari Subur

Kelompok Tani Ternak di Getasan Keluhkan Kurangnya Dokter Hewan
Ist
Bidang Eksternal BEM Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro mengadakan kunjungan dan survey di Kelompok Tani Ternak (KTT) Sari Subur di Desa Sumogawe dan KTT Rias, di Desa Sidomukti, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Minggu, (8/5/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jateng, Rival Almanaf

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bidang Eksternal BEM Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro mengadakan kunjungan dan survey di Kelompok Tani Ternak (KTT) Sari Subur di Desa Sumogawe dan KTT Rias, di Desa Sidomukti, Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Minggu, (8/5/2016). Audiensi bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah tersebut dilaksanakan untuk menyambut Hari Susu Nusantara, 1 Juni.

"Audiensi BEM FPP Undip ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah merupakan usaha dalam menyerap informasi terkait kondisi Peternakan di Jawa Tengah yang nantinya diharapkan dapat menjadi pandangan mahasiswa dalam menentukan posisi untuk ikut berperan dalam meningkatkan kualitas Peternakan di Jawa Tengah," tulis Ketua BEM FPP, Rona Indra Cahya dalam keterangan tertulis kepada Tribun Jateng, Rabu (11/5/2016).

Berdasarkan hasil wawancara dengan KTT Rias dan KTT Sari Subur permasalahan yang sangat mendasar adalah kurangnya suprastruktur yang ada di Kecamatan Getasan seperti Dokter Hewan dan Tim Penyuluh.

"Dokter Hewan kami hanya satu per kecamatan dan setiap hari Jumat biasanya pulang kampung, kembali lagi hari Senin. Biasanya kalau sapi kami sedang sakit pada hari Jumat sampai Minggu kami tidak bisa berbuat apa-apa," ujar, Ketua Tani Ternak Sari Subur, Wiyono.

Ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para peternak seperti kurangnya alat-alat produksi misalnya ember stainless, alat penyedot susu, kurangnya tenaga medis, penyuluhan yang kurang merata dan ketidak percayaan pemerintah terhadap susu lokal. Para peternak juga merisaukan harga susu di Jawa Tengah yang kecil dibandingkan Jawa Barat dan Jawa Timur.

"Kemarin di Jawa Timur harga susu mencapai Rp.5090/liter sedangkan disini tidak mencapai sejumlah itu," jelas Sigit, Ketua KTT Rias. (*)

Penulis: rival al-manaf
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved