TribunJateng/

Ke Solo, Jangan Lupa Belanja Batik di Kampung Laweyan

Setiap perempatan dibangun jalan berpaving dan terpasang plakat-plakat bertuliskan Kampoeng Batik Laweyan dengan corak batik.

Ke Solo, Jangan Lupa Belanja Batik di Kampung Laweyan
KOMPAS/SRI REJEKI
Para desainer dari Italia melihat proses pembuatan batik, seperti pengecapan batik, di tempat produksi batik Saud Effendi di Kampoeng Batik Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Kamis (27/2/2014). Mereka tertarik menggunakan batik sebagai material bagi karya busana mereka, selain ingin mendalami makna dan filosofi motif batik sehingga dapat membuat karya mereka lebih dalam. 

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Solo memiliki keunikan tersendiri, terutama kawasan cagar budaya peninggalan leluhur yang kaya akan sejarah, bangunan dan lingkungan, tradisi dan sosial budaya, serta industri.

Adapun kawasan tersebut adalah Kampoeng Batik Laweyan, Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan di Solo bagian barat. Kampung ini dijadikan kawasan cagar budaya sejak 2010.

Berbagai elemen yang ada di dalam kampung batik Laweyan menjadi pusaka nasional, seperti bangunan. Bangunan di kampung ini masih terawat dngan gaya arsitektur Eropa dan Jawa.

Setiap perempatan dibangun jalan berpaving dan terpasang plakat-plakat bertuliskan Kampoeng Batik Laweyan dengan corak batik.

Sebagai kampung batik, wisatawan dapat berkunjung, belajar, dan berbelanja batik di toko, galeri, pabrik, dan museum batik.

Ketua paguyuban Kampoeng Batik Laweyan, Alpha Febela Priyatmono (56), menjelaskan, kawasan batik Laweyan dikembangkan oleh 1980-an pengusaha batik dengan spesialisasi masing-masing.

"Tahun 80-an pengusaha batik di kampung batik Laweyan memiliki spesialisasi masing-masing mulai dari pabrik pembuatan batik, toko, galeri, dan museum," terangnya kepada TribunSolo.com, Senin (23/5/2016).

Namun ditambahkan Alpha, 30 persen dari 80 pengusaha batik di kampung batik Laweyan memiliki usaha batik yang komplit seperti terdapat pabrik pembuatan beserta toko penjualan batik.

Seperti batik putra laweyan, merak manis, batik pria tampan, dan batik mahkota Laweyan. Kawasan batik Laweyan menjual batik berupa pakaian, kerajinan tangan, lukisan, kain, dan sebagainya.

Harga batik juga bermacam, mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah. Alpha menambahkan, Kampoeng Batik Laweyan memiliki visi dan misi lokal yang menggelobal.

Menjadikan kampung batik Laweyan menjadi kamung ekonomi, kampung budaya, dan kampung kreatif.

"Dan tujuannya adalah menjadikan Solo eco, culture dan creative city," katanya.

"Solo sebagai kota green batik dunia, ke depan akan ada program untuk tidak merusak lingkungan, nulai dari pemgadaan bahan baku batik (kain), hingga proses pembuatan batik memggunakan bahan-bahan ramah lingkungan," jelas Alpha kepada TribunSolo.com.

Bagi wisatawan luar kota Solo yang hendak berkunjung ke kampung batik Laweyan, lokasinya mudah diakses.

Dari Stasiun Purwosari Solo (Jalan Slamet Riyadi) ke timur, perempatan Purwosari (hotel Sala View) ke selatan (Jalan Perintis Kemerdekaan), Kampoeng Batik Laweyan terdapat di selatan Jalan Dr Rajiman. (TribunSolo.com/Chrysnha Pradipha)

Editor: rustam aji
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help