Mudik Lebaran 2016

Djoko Setijowarno: Kemacetan Tol Brebes Timur Karena Salah Rancangan Pintu Exit

Djoko Setijowarno: Kemacetan Tol Brebes Timur Karena Salah Rancangan Pintu Exit

Djoko Setijowarno: Kemacetan Tol Brebes Timur Karena Salah Rancangan Pintu Exit
TRIBUNJATENG/FAJAR EKO NUGROHO
EXIT TOL BREBES TIMUR 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Mudik Lebaran tahun 2016 ini ditandai dengan pengoperasian dan peresmian ruas tol Pejagan-Brebes Timur sepanjang 20,3 km oleh Presiden RI Joko Widodo. Harapannya, antrean panjang dan kemacetan saat mudik tidak terulang seperti tahun lalu.

Namun kondisi di lapangan berbeda. Justru adanya tol ini, jalur non tol Pantura ditinggalkan pengguna mobil. Dampaknya, waktu tempuh menjadi lebih lama, dan terjadi kemacetan antrian kendaraan sangat panjang.

"Padahal, jarak 20, 3 km ruas tol Pejagan-Brebes Timur dapat ditempuh 5 jam 30 menit. Artinya, melihat kondisi di lapangan, propaganda tol tidak berhasil mengatasi dan mengantisipasi kemacetan," kata peneliti pada laboratorium transportasi Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata, Djoko Setijowarno, Senin (4/7/2016).

Menurut pakar transportasi itu, ‎desain pintu keluar di pantura yakni pintu keluar tol, juga menjadi penyebab kemacetan panjang. Harusnya, pintu keluar dirancang tanpa traffic light dengan membangun interchange.

Ia menuturkan, macet di tol sungguh membahayakan dan bisa membuat stress berkepanjangan. Selain itu, jika terjadi kemacetan, maka sulit melakukan penanganan bila terjadi kondisi darurat.

"Lain halnya di jalan non tol jalur pantura,‎ lebih lengang dan banyak dinikmati sepeda motor. ‎Pemudik dapat kapanpun memilih untuk beristirahat dan menikmati kuliner," ujarnya.

Lebih lanjut Djoko mengatakan, minat transportasi umum cukup tinggi, terutama moda kereta api (KA). Pada tahun depan, menurutnya, masih ada peluang menambah kuota angkuran KA. Caranya, yaitu menambah frekuensi dan menambah jumlah kereta setiap rangkaian. Satu rangkaian bisa hingga 30 kereta yang ditarik lokomotif. "Peminat bus juga masih bisa ditambah. Caranya, menata kondisi terminal agar nyaman seperti di bandara atau stasiun KA.‎ Juga memperbaiki kondisi sarana angkutan umumnya," jelasnya. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved