TribunJateng/

Yang Melihat Hanya Bisa Nangis, Wanita Lumpuh Total Ini Diperkosa dan Kini Rawat Sendiri Bayinya

Saat seperti itu, Yanti hanya bisa menyambutnya dengan senyum dan suara yang tak dapat dipahami orang awam

Yang Melihat Hanya Bisa Nangis, Wanita Lumpuh Total Ini Diperkosa dan Kini Rawat Sendiri Bayinya
facebook
Yanti asal Ngawi, Jawa Timur, hanya bisa tidur telentang. Anaknya sudah bisa merangkak untuk mencari ASI-nya. 

TRIBUNJATENG.COM - Wanita berusia 21 tahun yang tinggal di Dusun Karanganyar, Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi itu hanya bisa tidur telentang setiap harinya.

Ia menderita cacat otak atau celebral palsy sejak lahir, yang membuat seluruh tubuhnya tak bisa digerakkan, kecuali tangan kanan yang masih bisa ditekuk.

Yanti nama wanita itu, tinggal bersama kedua orang tuanya dan seorang bocah laki-laki berusia delapan bulan, di sebuah rumah dari papan dan berlantaikan tanah. Balita tersebut merupakan anak Yanti yang dilahirkan dengan cara sesar.

Beberapa bulan lalu, insiden tragis menimpa Yanti. Ia diperkosa oleh kerabatnya sendiri hingga hamil. Kemungkinan, itu terjadi saat ia sendirian karena ditinggal dua orang tuanya pergi ke hutan.

Tak ada yang tahu soal peristiwa tragis itu hingga lama-lama, perut Yanti membesar. Awalnya sempat dikira tumor, tetapi setelah ditanya lebih lanjut, ia mengaku diperkosa.

Oleh karena tak dapat bicara, Yanti kesulitan memberi tahu nama pelakunya. Namun ketika ditunjukkan beberapa laki-laki, ia menganggukkan kepala saat ditanya, apakah kakak ipar yang melakukan perbuatan bejat itu atau tidak.

"Saat itu sempat mau dibunuh sama bapaknya. Tapi ya enggak jadi ditangisi sama istri pelaku dan anaknya," kata Neri Firmanty yang sudah berkunjung ke rumah Yanti, Rabu (24/8/2016).

Oleh karena masih keluarga, pelaku perkosaan tak dilaporkan dan justru tinggal bersebelahan dengan korban. Keluarga Yanti khawatir bila itu akan berdampak lebih buruk.

Semenjak anak Yanti lahir, istri pelaku membantu merawat bayi tersebut. Yanti juga dibantu sang ibu dalam mengasuhnya.

Bagaimana perempuan tersebut menyusui anaknya juga membuat Neri dan teman-temannya yang datang menangis. Saat masih bayi, Yanti menyusui dengan dibantu ibunya.

Namun kini, Wahyu, nama anak itu sudah bisa merangkak sendiri mencari ASI. Saat seperti itu, Yanti hanya bisa menyambutnya dengan senyum dan suara yang tak dapat dipahami orang awam.

"Saya enggak bisa menahan air mata. Sesek sekali," tutur Neri menceritakan perasaannya saat itu.

Meskipun kondisi fisiknya terbatas, tetapi Yanti menolak dengan tegas ketika ada orang yang mau mengadopsi anaknya. Bahkan ia sampai menangis dan meronta, karena tak mau dipisahkan dari anaknya.

Selama ini, ia juga tak pernah menerima bantuan dari pemerintah, padahal hidup dalam kondisi kekurangan. Namun saat ini, sepertinya Yanti sudah bisa bernafas sedikit lega.

Pasalnya untuk pendidikan SD dan SMP sang anak, sudah ada pihak yang bersedia membantu. (*)

Editor: muslimah
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help