TribunJateng/

TRENYUH! Yatim Sejak 4 Tahun dan Idap Leukimia, Bayu Jualan Pempek Untuk Beli Obat dan Bantu Ibunya

Bocah yatim sejak usia 4 tahun itu, sangat sederhana. Boleh disebut, hidupnya penuh kekurangan.

TRENYUH! Yatim Sejak 4 Tahun dan Idap Leukimia, Bayu Jualan Pempek Untuk Beli Obat dan Bantu Ibunya
Facebook
Foto Bayu saat berjualan pempek di ATM Pangkalpinang, Selasa (6/9/2016) malam tersebar di facebook.

TRIBUNJATENG.COM, PANGKALPINANG - "Kalau hari ini tidak jualan pempek, kami mau makan apa."

Kalimat itu keluar dari mulut Bayu Pranata (12), warga Jalan Pahlawan12, Kelurahan Kacangpedang RT 07 RW 03, Kota Pangkalpinang, Rabu (7/9/2016). Bocah yatim sejak usia 4 tahun itu, sangat sederhana. Boleh disebut, hidupnya penuh kekurangan.

Namun, kegigihan dan semangatnya menjalani hidup tak bisa dipandang biasa-biasa saja. Divonis menderita penyakit leukimia sejak usia tiga tahun, tak membuat siswa kelas satu SMP Islam Terpadu (IT) NU Pangkalpinang itu terpuruk dan putus asa.

Justru, cara Bayu memaknai hidup sangat menginspirasi. Bagi dia, tak ada kata menyerah selama nyawa masih dikandung badan. 

"Saya tidak mau diberi cuma-cuma, bukan hak saya. Kalau mau membantu, beli saja pempek punya mamak," ucap Bayu saat ditemui di rumah kontrakan yang ditempati bersama ibunya, Venti Dahlia (45) dan adik serta kakak perempuannya.

Di kontrakan sederhana dengan satu kamar dan dapur seadanya itu, Bayu sekeluarga hidup bahagia. Tak pernah sekalipun dia mengeluh, apalagi protes kepada Tuhan lantaran dilahirkan dalam himpitan ekonomi.

Di ruang tamu, tanpa kursi dan barang berharga lainnya, Bayu kerap melantunkan shalawat Nabi Muhammad menjelang tidur untuk adik bungsunya, Nazila (7). Tampak kondisi dapur disesaki sejumlah barang, termasuk perabotan ibunya membuat pempek.

Sudah sepuluh tahun mereka hidup berhimpitan di rumah dengan biaya sewa Rp 500 ribu per bulan itu. Sebuah poster bergambar Syeh Abdul Qadir Jailani menjadi penghias tempat Bayu biasa meletakkan tas dan baju di ruang tamu. Ia adalah pengagum ulama dan ahli tasawuf tersebut.

"Cita-cita saya mau jadi ustad. Sekitar dua tahun lalu, saya pernah bermimpi dibawa orang berjubah putih ke atas awan, mengajak keliling seperti di atas burung besar," kata Bayu.

Hari-hari Bayu sangat sibuk dan nyaris tidak ada waktu bermain seperti anak sebayanya. Menjelang Subuh, dia sudah bangun. 

Halaman
1234
Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help