jemaah haji 2016

KASRIN: Saya Bersama Indi Selama 44 Hari di Tanah Suci

Kasrin mengaku Bersama Indi Selama 44 Hari di Tanah Suci. Sepulangnya dari Mekkah tiba di Rembang, 4 Oktober 2016, rumahnya makin ramai pengunjung.

KASRIN: Saya Bersama Indi Selama 44 Hari di Tanah Suci
TRIBUNJATENG/YAYAN
BANYAK TAMU - Kasrin sejak pulang haji 5 Oktober 2016, rumahnya ramai pengunjung, bersilaturahmi dan minta doa. Kasrin si tukang becak itu naik haji secara misterius. 

TRIBUNJATENG.COM, REMBANG - Rumah Kasrin (59) ramai dikunjungi orang. Tukang becak, yang biasa mangkal di depan Masjid Jami Lasem, Rembang itu mengaku berangkat haji secara ajaib, meski namanya tak tercantum dalam daftar jamaah haji di Kantor Kementerian Agama.

Nama Kasrin menjadi bahan perbincangan. Rumahnya di Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, masih ramai kedatangan tamu, Rabu (5/10). Pada Selasa (4/10), Kasrin pulang ke rumah. Ia mengaku kembali dari tanah suci Mekkah, setelah selama 44 hari menunaikan ibadah haji. "Bapak pulang kemarin, sampai Masjid Lasem sekitar pukul 09.00, kami ramai-ramai menjemputnya ke sana," kata Istiqomah (32), anak bungsu Kasrin, di sela-sela menerima tamu.

Menurut dia, sejak kedatangan Kasrin, rumahnya penuh tamu, bahkan masih berdatangan hingga pukul 02.00 dinihari. “Usai menunaikan shalat Subuh sekitar pukul 05.00, rumah sudah diketuk orang. Mereka ingin mendengar cerita langsung dari Bapak," imbuhnya.

Anak sulung Kasrin, Siti Rokhanah (36), mengatakan para tamu tak hanya berasal dari sekitar Rembang. Mereka dari berbagai kota di Jawa Tengah, seperti Pati, Kudus, Jepara, dan Semarang. "Banyak tamu yang tak kami kenal," sambung dia.

Sembari sibuk menyalami para tamu yang datang - pergi silih berganti, Kasrin menuturkan pengalamannya selama menunaikan ibadah haji. "Sejak berangkat dari Lasem pada Selasa (23/8) malam, saya terus nginthil (membuntuti) Bu Indi," kata Kasrin, mengawali cerita.

Menurut Kasrin, Indi adalah sosok penting di balik kepergiannya berhaji. Ia menyebut Indi merupakan sosok dari dunia lain, yang telah menjadi pengguna jasa becaknya sejak sekitar 21 tahun silam. Menurut Kasrin, rumah Indi tak jauh dari Balai Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem. Dituturkan, sebelum mengenal Indi, lokasi rumah perempuan itu adalah hamparan tanah kosong. "Tapi sejak mengenal Indi, dalam pandangan saya di situ ada rumah. Mungkin kalau yang lihat orang lain, ya masih berupa tanah kosong, tak ada rumah di situ," ucapnya.

Dituturkan lebih lanjut, sejak berangkat dari Lasem, Indi selalu berada di dekatnya. Ia diperintahkan oleh Indi, untuk memegangi pakainan bagian belakang sosok perempuan dari dunia lain itu. "Di dalam bus saat berangkat, Bu Indi duduk di samping saya. Kami duduk di bagian tengah, tapi sepertinya orang-orang di bus tak menyadari keberadaan kami," lanjutnya.

Sesampainya rombongan di Embarkasi Donohudan, Boyolali, hal serupa juga dialami Kasrin. "Sesampainya di Solo (Boyolali) dulu ya naik pesawat bareng-bareng dengan rombongan dari Rembang. Ya naik begitu saja, gak diperiksa atau gimana-gimana," aku Kasrin.

Sesampainya di tanah suci, Kasrin kembali diwanti-wanti oleh Indi agar jangan sekalipun terpisah. Menurut dia, jika sampai terpisah Kasrin tak akan bisa pulang kembali ke tanah air. "Di sana, di tanah suci selama 44 hari menunaikan ibadah haji, saya selalu nginthil Bu Indi. Baik saat sai, tawaf mengelilingi Kabah, shalat, dan lain-lain," cerita dia. Ia menginap di pemondokan bareng Indi. "Saya nginap di sebuah bangunan dua lantai," tandasnya.

Halaman
12
Penulis: yayan isro roziki
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help