TribunJateng/

Ngopi Pagi

Merawat Akal Sehat

Beberapa hari atau bahkan bulan belakangan, pelbagai informasi yang terbilang "mengguncang" akal sehat kita berseliweran.

Merawat Akal Sehat
YOUTUBE
Beberapa hari atau bahkan bulan belakangan, pelbagai informasi yang terbilang "mengguncang" akal sehat kita berseliweran. 

TRIBUNJATENG.COM - Beberapa hari atau bahkan bulan belakangan, pelbagai informasi yang terbilang "mengguncang" akal sehat kita berseliweran. Bukan hanya di media-media mainstream, di media sosial lebih-lebih lagi.

Kabar mengenai sepak terjang Taat Pribadi, yang berlarat-larat seperti telenovela, seperti pencemaran yang memapar keimanan sekaligus rasionalitas kita. Terlebih lagi, ketika tokoh serasional--setidaknya, rekam jejak tokoh ini menunjukkan intelektualitas yang cerlang--Dr Marwah Daud Ibrahim berada (sekaligus menjadi orang penting) di pusaran paranormal (!) asal Probolinggo, Jawa Timur, tersebut.

Kasus pemimpin Padepokan Dimas Kanjeng, yang menjadikan ribuan (atau bahkan mungkin, puluhan ribu) orang sebagai "korban", mengundang pertanyaan yang menohok: di manakah rasionalitas masyarakat kita kini? Di manakah rasionalitas ribuan orang yang "sukarela" menyetor uang jutaan hingga ratusan miliah rupiah, dengan dalih apa pun: entah mahar atau dana sosial dan keagamaan? Apakah yang mendorong mereka meninggalkan keluarga dan kemudian "berkhalwat" hingga berbulan-bulan di ratusan tenda, yang terserak di sekitar Padepokan Dimas Kanjeng?

Di manakah pula "akal sehat" seorang Marwah, yang sepertinya sukarela kehilangan marwah, dengan pasang badan terhadap Taat Pribadi? Dengan akal sehat kita, rasanya musykil seorang dengan reputasi pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), mantan anggota DPR RI selama tiga periode, asisten peneliti UNESCO dan Bank Dunia, penyandang gelar master dan doktor dari American University, Washington DC, Amerika Serikat, bisa terjerumus dalam kelompok, yang aktivitasnya bersalut irasionalitas semacam Dimas Kanjeng. Toh nyatanya, Marwah ada di dalamnya.

Entah bagaimana sengkarut Dimas Kanjeng--dan juga kisah Marwah Daud di dalamnya--berakhir. Kita masih sulit menebaknya. Apakah pada akhirnya Marwah Daud akan "kembali", seperti harapan anggota Komisi III DPR RI, Akbar Faisal, dalam talkshow Indonesia Lawyers Club (ILC), beberapa waktu lalu. "Kembalilah, Kakanda, kembalilah pada kami. Kami sayang Kakanda," kata Akbar, saat itu, sembari terisak.

Belum juga tuntas persoalan Dimas Kanjeng, dalam konteks yang lebih dekat, kisah Kasrin yang "naik haji" secara ajaib juga menggoda rasionalitas kita. Kasrin, tukang becak asal Dukuh Gembul, Desa Sumberejo, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, konon berangkat ke Tanah Suci atas bantuan sosok yang dia sebut Indi.

Menurut Kasrin, Indi merupakan sosok tak kasat mata, yang belasan tahun silam menjadi pelanggan becaknya. Kasrin telah "tiba" di rumah, Rabu (5/10/2016) silam, setelah--katanya--menunaikan ibadah haji. Laiknya orang yang baru pulang dari Tanah Suci, tukang becak yang biasa mangkal di depan Masjid Lasem itu juga membawa oleh-oleh: sajadah, tasbih, mukena, teko dan gelas kecil-kecil khas Arab, dan tentu saja, air zamzam.

Benarkah Kasrin sampai ke Mekkah? Wallahu a'lam. Yang jelas, penelusuran Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Rembang, belum ada bukti rasional dan otentik bahwa selama ini 44 hari pergi dari rumah Kasrin benar-benar berada di Tanah Suci.

"Petugas di sana sudah mencari keberadaan beliau, tapi tak menemukan. Sejauh ini belum ada bukti rasional keberadaan beliau di Tanah Suci," kata Kepala Kantor Kemenag Rembang, Atho'illah, Kamis (6/10/2016).

Memang tidak mudah merawat akal sehat pada hari ini. Banyak godaan, banyak paparan, banyak guncangan--entah seperti Taat atau Kasrin--yang bisa membuat akal sehat kita menjadi sakit atau, setidaknya, demam. Hati-hati sajalah. (tribunjateng/cetak)

Penulis: achiar m permana
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help