TribunJateng/

Ambon Tak Khawatir Merugi Sediakan Lapak Koran Kejujuran di Ungaran, Ini Alasannya

"Lapak Koran Kejujuran ini saya sediakan selama sekira dua tahunan. Ya sepele awalnya," ungkap pria berumur 58 tahun itu

Ambon Tak Khawatir Merugi Sediakan Lapak Koran Kejujuran di Ungaran, Ini Alasannya
Tribun Jateng/daniel ari purnomo
Sudarlis menata sejumlah koran ke dalam rak di halaman Depot Jamu Cik Tien, kawasan Pasar Bandarjo Ungaran, Selasa (15/11/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Loper koran, Sudarlis tampak menata sejumlah koran dalam rak kayu bercat biru muda. Rak tersebut dipaku pada tembok halaman Depot Jamu Cik Tien, kawasan Pasar Bandarjo Ungaran. Uniknya, dalam rak tersebut ditulis kata Koran Kejujuran.

"Lapak Koran Kejujuran ini saya sediakan selama sekira dua tahunan. Ya sepele awalnya," ungkap pria berumur 58 tahun itu, sembari menghitung beberapa lembar uang, Selasa (15/11/2016) pagi.

Dikatakannya, ide lapak itu muncul lantaran seringnya para pelanggan menunggu kedatangan Sudarlis, dari menjajakan koran di sekitar Pasar Bandarjo. Para pelanggan itu menunggu untuk membayarkan uang harga koran yang dibeli.

"Daripada mereka menunggu, saya persilakan mereka ambil koran dan meninggalkan uang pembayaran ke dalam umplung (botol bekas air mineral yang dipotong separuh--Red)," ujarnya.

Agar para pelanggan tak bingung soal harga, pada bagian atas rak itu ditulis daftar harga masing-masing koran. Sudarlis pula membubuhi kata-kata, Uang Masuk Kotak, Bayar Sendiri Dengan Uang Pas.

Sudarlis berujar tak khawatir merugi, bila ada beberapa orang mengambil koran tanpa membayar. Menurutnya, soal rejeki sudah ada yang atur.

"Ya ada (orang ambil koran tanpa bayar--Red), saya dapat laporan itu dari Geger (juru parkir di Depot Jamu Cik Tien). Saya yakin orang Ungaran itu banyak yang jujur," tutur Sudarlis.

Pria yang akrab disapa warga setempat Ambon itu tertawa, saat Tribun Jateng menanyakan nama panggilannya. Ternyata panggilan Ambon itu tak ada hubungannya dengan asal usul Sudarlis.

"Saya asli Padang. Dipanggil orang-orang sebutan Ambon itu gara-gara kulit saya hitam. Tinggal di Ungaran dengan istri, sejak tahun 2000 di daerah Dliwang, Ungaran Barat," bebernya.

Sudarlis mengatakan rejekinya tergantung dari waktu bangun tidurnya. Bila kesiangan, dipastikan tak akan ada uang sarapan untuk keluarganya.

"Tiap subuh harus bangun, lalu jalan ke Sebantengan ambil koran di agen. Lanjut jalan ke Pasar Bandarjo, jaraknya sekira satu kilometer," katanya.

Ia berharap bisa mencicil sepeda kayuh, bahkan sepeda motor untuk meringankan pekerjaannya. (*)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help