TribunJateng/

Destinasi Jateng

Ini Sebenarnya Batik Semarang yang Asli, Telah Ada Ratusan Tahun Lalu

Bagaimana dengan Batik Semarang? Mendengarnya mungkin sedikit asing, dibanding batik-batik tetangganya seperti Pekalongan, Jogja, dan Solo

Ini Sebenarnya Batik Semarang yang Asli, Telah Ada Ratusan Tahun Lalu
Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia
Motif Batik Semarang, menggambarkan kehidupan flora fauna khas pesisir. 

TRIBUNJATENG.COM - Batik sudah menjadi identitas Indonesia, semenjak ditetapkan menjadi warisan budaya Indonesia, eksistensinya semakin menggeliat di berbagai daerah. Berbagai daerah kini memiliki goretan motif batiknya masing-masing.

Bagaimana dengan Batik Semarang? Mendengarnya mungkin sedikit asing, dibanding batik-batik tetangganya seperti Pekalongan, Jogja, dan Solo.

Geliat batik Semarang memang tak seeksis Pekalongan. Eko Harianto, Salah satu penggiat Batik Semarang mengatakan motif yang terkenal di Semarang hanya berkutat di beberapa hal saja, seperti motif Tugu Muda, Lawang Sewu, Asam, dan yang lainnya.

Motif Batik Semarang yang ia buat, menggambarkan kehidupan flora fauna khas pesisir.
Motif Batik Semarang, menggambarkan kehidupan flora fauna khas pesisir.

Ia mengatakan semenjak pengakuan batik dari UNESCO, berbagai kota membuat motif khasnya sendiri, tapi cenderung hanya menuangkan desain bangunan-banguanan khasnya, atau menggambar yang sudah terlihat di kotanya.

“Batik berbagai daerah seperti hanya mengikuti arus, tanpa melihat akar budaya atau sejarah batik di daerahnya masing-masing. Padahal batik sudah tercitpa jauh sebelum itu,” ujar Eko pada Tribun Jateng saat mengisi diskusi Batik Semarang di Impala Space, Minggu (20/11/2016).

Ia mengungkap ternyata Batik Semarang sendiri telah ada sejak abad ke 18, jauh sebelum Batik Pekalongan yang tercipta pada 1920. Berbagai motif cantik pun telah tercipta ratusan tahun yang lalu, saat zaman kolonial.

“Saya coba mencari sebenernya batik semarang itu kaya gimana. Ternyata arsipnya masih tersimpan di berbagai literature, sampe ke Los Angels, Amerika,” ujarnya pada Tribun Jateng.

Ia menerangkan motif asli Batik Semarang sendiri memiliki ciri khas perpaduan batik pesisir dengan budaya percampuran masyarakat tionghoa di Semarang. Semarang memang sarat dengan pencampuran kebudayaan pendatang, yaitu Tionghoa, dan Arab.

Motif khas pesisir seperti flora fauna, yaitu burung merak, kupu-kupu, bangau, cempaka, mawar, burung blekok hingga asam pun banyak menghiasi literature yang menggambarkan Batik Semarang.

Selain itu, cirikhas yang selalu ada di Batik Semarang terdahulu ialah motif lekukan di kain bagian bawah. Menurutnya biasa disebut dengan lung-lungan.

Pewarnaan pun memiliki ciri khas warnanya sendiri yang menggambarkan karakter kehidupan di kota tersebut.

Beberapa koleksi Batik Semarang
Beberapa koleksi Batik Semarang yang dipamerkan di gerai Cinta Batik Semarangan milik Eko.

“Motif warna khas China, merah, kuning, orange, dan warna alam, hijau muda, sangat melekat di masa itu. Karena merupakan karakter kehidupan di kota Semarang sejak dahulu,” ujarnya saat disambangi di rumahnya di Kampung Batik Gedong Semarang, Senin (21/11/2016).

Kini ia, isterinya dan beberapa penggiat batik lainnya di Kampung Batik Gedong, Semarang terus menggalakan motif-motif asli semarang tersebut.

Menurutnya jika mengacu ke motif aslinya, Batik Semarang malah tidak monoton. Desain pun sangat berkembang, tidak terpatok pada bangunan-bangunan landmark Semarang saja.

“Sekarang masih banyak pengrajin yang kerkotak pada motif ikon. Justru motif Batik Semarang yang lama lebih memikat pembeli, tidak bosan, dan lebih kekinian,” terang Eko. (Irzal Adikurnia/Magang Tribunjateng)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help