Icip icip Kuliner

Bertahan Sejak Zaman Belanda, Soto Bangkong Kini Jadi Ikon Kuliner di Semarang

Salah satu pionir soto Semarang yang masih eksis sejak zaman penjajahan hingga sekarang adalah Soto Bangkong

Bertahan Sejak Zaman Belanda, Soto Bangkong Kini Jadi Ikon Kuliner di Semarang
Tribun Jateng/Irzal Adiakurnia
Soto siap diguyur kaldu yang berada di dapur Soto Bangkong 

TRIBUNJATENG.COM - Salah satu pionir soto Semarang yang masih eksis sejak zaman penjajahan hingga sekarang adalah Soto Bangkong.

Berawal dari pikulan yang dijajakan bapaknya, Soleh, yang kala itu masih sekitar delapan tahun sudah ikut membantu berjualan. Menelusuri kampung demi kampung mulai Kampung Baris hingga Pasar Peterongan.

Soto siap diguyur kaldu yang berada di dapur Soto Bangkong
Soto siap diguyur kaldu yang berada di dapur Soto Bangkong

Nama Soto Bangkong pun diambil dari jalan tempat mangkal ayahnya dahulu. Ketika melewati jalan Bangkong, ia dan ayahnya sering beristirahat di perempatan jalan samping Kantor Pos yang kini jadi bangunan cagar budaya, karena usianya sudah ratusan tahun.

Mulai 1945, pria yang bernama Soleh Soekarno itu pun mulai berjualan sendiri. Ia meneruskan kembali tradisi ayahnya yang suka berhenti di samping Kantor Pos Jalan Bangkong saat menjajakan sotonya.

“Makin lama pembeli malah menunggu saya disana, jadi tiap kesana ramai,” ujar Soleh Soekarno yang kini genap berusia 110 tahun, Minggu (4/12/2016).

Akhirnya sejak tahun 1949, pikulannya hanya bertengger di samping Kantor Pos Jalan Bangkong tersebut. Soto yang ia jual pun akhirnya resmi dinamakan Soto Bangkong Semarang, karena para pelanggan yang menamainya.

Suasana Soto Bangkong Semarang
Suasana Soto Bangkong Semarang

Pikulan ratusan tahun itu kini masih apik bertengger di restonya yang telah memiliki lima petak ruko. Cukup besar memang untuk sekelas resto soto di Semarang.

Ia mengatakan transformasi dari pikulan ke resto besar tersebut tak lain karena kerja keras dan kegigihannya melestarikan makanan khas tersebut.

Anda cukup duduk di jejeran kursi dan meja yang ada di sana, pelayan pun akan datang menawarkan menu dengan ramahnya. Tak hanya soto yang tersedia disini, tapi ada ayam goreng, garang asem, sate ayam dan serba ayam lainnya.

Tentu andalan utamanya ialah Soto Semarangnya, Tribun Jateng pun memesan soto tersebut dengan pilihan aneka sate pelengkap. Disini terseda sate tempe tang digireng menggunakan tepung, sate perkedel, sate jeroan ayam, sate kerang, dan sate telur puyuh.

Satu Porsi Soto Bangkong Semarang beserta satenya
Satu Porsi Soto Bangkong Semarang beserta satenya

Semangkuk soto dengan asap yang mengepul pun hadir di meja. Sekilas taka da yang istimewa, tentunya sama dengan Soto Semarang pada umunya.

Kuahnya yang bening kecoklatan sangat segar ketika di sruput. Bawang goreng, daun bawang tauge, dan irisan tomat pun melengkapi kesegaran saat menyantapnya. Tak lupa ada nasi yang disatukan dalam mangkuk soto, ciri Soto Semarang pada umumnya. Namun, Anda bisa memintanya untuk dipisah.

Semangkuk Soto Semarang disini bisa dibeli dengan Rp 15 ribu, sementara jika nasinya hendak dipisah atau nambah satu porsinya Rp 4 ribu. Untuk pelengkap, resto ini menyediakan aneka sate mulai Rp 3-4 ribu.

“Buka mulai pukul 07.00 hingga 22.00 WIB, setiap hari kecuali libur nasional,” ujar Soleh.

Jadi, tertarik untuk sarapan dengan kesegaran semangkuk soto khas Semarang yang melegenda ini? (*)

Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved