Hendi Ajak Berdoa Bersama Untuk Keutuhan Bangsa dan Kota Semarang

Pengajian dimeriahkan oleh Parade Seribu Rebana, Pembacaan Dziba' dan Maulid Nabi oleh Para Habib, Kyai dan santri.

Hendi Ajak Berdoa Bersama Untuk Keutuhan Bangsa dan Kota Semarang
istimewa
Hendi Ajak Berdoa Bersama Untuk Keutuhan Bangsa dan Kota Semarang 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Pemerintah Kota Semarang mengadakan acara Pengajian Lailatul Ijtima' dan Doa Akhir Tahun 2016 di Halaman Balaikota Rabu (21/12) malam. Acara ini digelar sebagai wujud syukur atas tahun 2016 yang akan dilewati dan dalam menyongsong tahun baru 2017.

Pengajian dimeriahkan oleh Parade Seribu Rebana, Pembacaan Dziba' dan Maulid Nabi oleh Para Habib, Kyai dan santri.

Sebagai penceramah adalah Dewan Pertimbangan Presiden RI, KH. Hasyim Muzadi. Acara tersebut dibuka langsung oleh Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi dan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, Ketua DPRD Kota Semarang Supriadi dan segenap SKPD Kota Semarang, dan tentunya masyarakat Kota Semarang.

Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi mengatakan acara tersebut untuk memberikan tauziah, gemblengan untuk warga Kota Semarang agar tetap cinta dengan Negara Kesatuan Republik Indoneisa (NKRI).

"Malam hari ini (kemarin) tidak hanya Keluarga Besar NU yang hadir, tetapi juga Muhammadiyah, LDII dan umat Islam yang lain. Tujuannya untuk berembug dan memberikan masukan terkait dengan tantangan yang ada di Kota Semarang," ujarnya dalam rilis yang diterima Tribun Jateng.

Hendi mengapresisasi Pemerintah Pusat terhadap kinerja Pemkot Semarang di tahun 2016 melalui bantuan anggaran pemberdayaan masyarakat dan juga penghargaan-penghargaan di tahun 2016 dimana penghargaan tersebut merupakan bonus.

"Kedepan yang terpenting adalah warga merasa tentram dan aman tinggal di Kota Semarang. Bangsa ini sedang diuji oleh yang namanya Kebhinekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau saya tidak salah, di sosmed sekarang ini banyak kelompok yang coba mengadu warga bangsa Indonesia yang cinta damai yang mempersoalkan suku, agama, ras antar golongan. Mestinya itu sudah selesai saat kemerdekaan dengan ditentukannya dasar negara Pancasila, dengan lambangnya burung garuda dan UUD 1945," ujarnya.

Seharusnya, lanjut Hendi, sekarang ini berbicara proses percepatan pembangunan. "Tapi ini adalah sebuah dinamika kehidupan bernegara. Mari kita berdoa bersama-sama agar apa yang terjadi sekarang ini berangsur-angsur membaik dan memikirkan pembangunan kembali," imbuhnya.

Sementara itu dalam tauziahnya, KH. Hasyim Muzadi mengatakan pentingnya ekonomi yang merata agar dapat dinikmati oleh rakyat keseluruhan dan pentingnya keadilan di dalam hukum Islam.

Ekonomi yang merata sangatlah penting, dan itu sudah diatur dalam UUD 1945. Supaya rezeki itu tidak hanya muter-muter untuk orang kaya saja tetapi juga merata untuk semua rakyat.

"Saya sangat menghargai bila ada usaha-usaha orang kecil bekerja sama dengan orang-orang besar. Bagaimana duit orang kecil mengalir ke sesama orang-orang kecil, tetapi sekarang ini yang terjadi adalah ketimpangan, dimana duit orang kecil mengalir ke orang besar dan uangnya orang besar tidak mengalir ke orang kecil. Di dalam Islam, hukum harus ada keadilan, yaitu keadilan bagi orang yang dikenai nya, kalau memang salah ya harus dihukum. Tapi sekarang kan kebalik, yang tidak salah malah dihukum," ujarnya. (*)

Penulis: galih permadi
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved