Perangi Radikalisme, Para Kiai Muda Deklarasikan Cyber Aswaja Jateng

Perangi Radikalisme, Para Kiai Muda Deklarasikan Cyber Aswaja Jateng di Aula Masjid Agung Jawa Tengah Jl Gajahraya Semarang

Perangi Radikalisme, Para Kiai Muda Deklarasikan Cyber Aswaja Jateng
tribunjateng/m zainal arifin/humas
Perangi Radikalisme, Para Kiai Muda Deklarasikan Cyber Aswaja Jateng di Aula Masjid Agung Jawa Tengah Jl Gajahraya Semarang 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, M Zainal Arifin

TRIBUNJATRNG.COM, SEMARANG - Aktivis cyber Aswaja secara resmi mendeklarasikan Cyber Aswaja Jateng. Deklarasi dilakukan usai digelar workshop literasi digital oleh Lembaga Kajian dan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Semarang di Aula Masjid Agung Jawa Tengah Jl Gajahraya Semarang, kemarin.

Salah satu deklarator perwakilan dari Lakpesdam NU kota Semarang, M Rikza Chamami mengatakan, dunia digital yang semakin marak dengan media sosial membutuhkan kecerdasan bagi pengguna internet.

"Budaya berkirim pesan ide-ide radikalisme sangat mengganggu nasionalisme dan melahirkan ideologi sumbu pendek" kata dosen Universitas Islam Negeri Walisongo itu dalam rilisnya ke Tribun Jateng, Minggu (1/1/2017).

Cyber Aswaja Jateng dideklarasikan, lanjutnya, dalam rangka memerangi arus radikalisme dan terorisme di dunia maya. Para deklarator yang hadir adalah Sholahuddin al-Ahmadi (GP Ansor Jateng), Abdul Hamid (PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah), Munawir Aziz (PP Lembaga Ta'lif Wan Nasyr), M Zulfa Cholil (Lakpesdam kota Semarang) dan 50 pegiat media lainnya.

"Sudah waktunya para generasi muda Jateng melahirkan pasukan media sosial dalam membendung arus radikalisme dan terorisme" tegas Rikza yang juga Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang.

Tahun 2017 menjadi awal yang bagus dalam menata konsolidasi melawan radikalisme yang sudah masuk ke dunia maya.

Peran generasi muda dalam berjejaring se Jawa Tengah ini sangat tepat. Basis pemikiran berinternet sehat dan menyadarkan digital literasi juga menjadi modal dalam mengurangi berita bohong atau hoax yang cepat tersebar.

"Wajib adanya sindikasi media antara satu dengan yang lain untuk membangun kekuatan networking," tambah Sholahuddin.

Dengan adanya kebersamaan dalam mengusung sebuah peristiwa akan mudah untuk memberikan pemahaman kepada publik. Bahkan, bila terjadi sebuah kemungkaran maka harus segera ditindak bersama-sama.

"Jangan sampai fitnah di media sosial kita biarkan, apalagi menghina ulama dan Islam" tegas dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, Abdul Hamid.

Yang tak boleh ditinggalkan selain konten-konten keagamaan juga harus memperbanyak tema tentang kebangsaan. Hal ini sebagai perekat antara masyarakat untuk menjadi Indonesia dengan bingkai persatuan dan kesatuan.

"Produksi tulisan-tulisan seputar Islam damai dan nilai kebangsaan dengan basis Pancasila harus diperkuat" kata penulis buku produktif Munawir Aziz. Dengan banyak tulisan yang bernilai kebangsaan, maka arus radikalisme akan sendirinya pudar. (*)

Penulis: m zaenal arifin
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved