Sri Marnyuni: Bahasa Jawa Sama Pentingnya dengan Mata Pelajaran Lain, Jangan Diremehkan

Sri Marnyuni: Bahasa Jawa Sama Pentingnya dengan Mata Pelajaran Lain, Jangan Diremehkan

Sri Marnyuni: Bahasa Jawa Sama Pentingnya dengan Mata Pelajaran Lain, Jangan Diremehkan
TRIBUNJATENG/ADI PRIANGGORO/dok
Foto dokumen, para juara sinden Idol 2014 yang digelar di Unnes Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang tak memasukkan mata pelajaran (mapel) Bahasa Jawa dalam Ujian Sekolah (US) kelas XII tingkat SMA sederajat tahun ini menuai reaksi keras.

Anggota Komisi E DPRD Jateng, Sri Marnyuni menilai, bagaimana pun Bahasa Jawa harus terus diajarkan di sekolah-sekolah di Jateng. Ia juga mendesak agar Bahasa Jawa harus diujikan dalam setiap evaluasi pendidikan, baik ujian harian, semester, akhir tahun ajaran, dan kelulusan.

Menurut dia, secara kognitif dan psikomotorik, mapel Bahasa Jawa sama pentingnya dengan mapel yang lain. Di dalam bahasa ini mengandung filosofi sikap menghormati pada orang lebih tua, utamanya guru.

“Bahasa Jawa sangat penting untuk dilestarikan di Jateng, karena sebagai Bahasa Ibu, dan merupakan identitas masyarakat Jawa,” tegasnya, Selasa (24/1).

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menegaskan, di Jateng sudah ada perlindungan Bahasa Jawa melalui Perda Provinsi Jateng No. 9/2012 dan Peraturan Gubernur No. 19/2014. Aturan itu harus ditegakan meski Kemendikbud tak mewajibkannya dalam US.

“Tanpa campur tangan pemangku kepentingan, terutama Pemprov Jateng, Dinas Pendidikan, sekolah, keluarga, dan masyarakat, Bahasa Jawa akan punah,” ungkapnya.
Anggota Komisi E DPRD Jateng, Yudi Indras Wiendarto mengatakan, kebijakan Kemendikbud yang tak mewajibkan bahasa Jawa masuk dalam Ujian Sekolah (US), justru mengancam kelestarian budaya daerah.

Tak penting lagi

Menurut dia, dikhawatirkan sekolah-sekolah tak lagi mementingkan mapel ini jika Bahasa Jawa tak diwajibkan.

“Lama-lama malah nggak diajarkan, dan bahasa itu bisa hilang, dan kita kehilangan jatidiri kita. Padahal, bahasa daerah kan pondasi dari budaya,” ungkap politikus Partai Gerindra itu.

Ia menegaskan, Komisi E DPRD Jateng dalam waktu dekat akan memanggil Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng guna memastikan adanya ketentuan dari Kemendikbud.

Sebelumnya, pada Jumat (20/1) lalu, para guru bahasa Jawa SMA/SMK/sederajat di Jateng yang tergabung dalam Musyawarah Guru Bahasa Jawa (MGMP), resah dan mendatangi kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jateng. Mereka minta mapel ini tetap masuk US kelas XII.

Ketua II MGMP Bahasa Jawa SMA Jateng, Sri Paminto mengungkapkan, ada beberapa alasan mengapa bahasa Jawa harus dijaga kelestariannya oleh pemerintah dan masyarakat. Karena merupakan identitas masyarakat Jawa.

Di samping itu, Bahasa Jawa merupakan mapel istimewa di Jateng karena keberadaannya di lindungi oleh Perda dan Pergub. Persoalan lain, belum semua satuan pendidikan (SMA/SMK/MA) di Jateng patuh mengajarkan bahasa Jawa dua jam per minggu seperti ketentuan dalam Pergub. (tribunjateng/had)

Penulis: m nur huda
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved