TribunJateng/

Inilah Curahan Hati Ketua MK Saat Dirundung Masalah

Usai pertemuan, Arief mencurahkan isi hatinya soal etika yang seharusnya dipegang oleh seorang hakim konstitusi.

Inilah Curahan Hati Ketua MK Saat Dirundung Masalah
TRIBUNNEWS / DANY PERMANA
Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat memberikan suaranya dalam pemilihan Wakil Ketua MK periode 2015-2017 pada Rapat Permusyawaratan Hakim Konstitusi di Gedung MK, Jakarta, Senin (12/1/2015). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Ketua Mahkamah Konstitusi Arief Hidayat menemui Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Selasa (7/2) pagi, terkait pemberhentian Patrialis Akbar. Usai pertemuan, Arief mencurahkan isi hatinya soal etika yang seharusnya dipegang oleh seorang hakim konstitusi.

Arief Hidayat mengatakan seorang hakim konstitusi itu harus sudah merasa cukup akan hidupnya. Guru besar Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini pun mencontohkan dirinya yang sudah merasa berkecukupan.

Bahasa 'berkecukupan' itu diistilahkan oleh Arief harus sudah merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Kriteria tersebut harus dipegang teguh oleh seorang hakim MK.

"Saya bayangkan kriteria umum yang hidupnya sudah selesai. Gaji di MK sudah cukup, mau apa saja sudah cukup, sudah rata-rata jauh dari orang Indonesia. Tidak usah mencari penghasilan lain," katanya.

Arief juga mengatakan seorang pejabat itu harus bisa mengukur diri sendiri. Arief mengatakan dirinya sudah merasa cukup atas apa yang didapatkannya.

"Makanya harus bisa mengukur. Kita naik mobil Kijang sudah cukup, tapi kalau merasa Kijang belum cukup pingin naik Jaguar, duitnya dari mana? Itu namanya orang hidupnya sudah selesai," katanya.

Dia kemudian mencontohkan jam tangan yang dipakainya. "Jam saya ini, jam olahraga, harganya cuma berapa? Rp 13 juta atau Rp 12 juta. Ini sudah cukup. Tapi ada jam harganya Rp 1 miliar, saya nggak pingin jam harga Rp 1 miliar. Baju ini harganya Rp 1 juta juga nggak ada, tapi ada baju yang ada berliannya kan nggak mungkin kita (beli), kecuali kita raja minyak. Itu namanya hidup sudah selesai," jelas Arief, yang memakai jam merek Apple Watch.

Sebagai Ketua MK, Arief mendapatkan gaji Rp 121 juta per bulan. Hal itu sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55/2014 tentang Hak Keuangan dan Fasilitas Hakim Agung dan Hakim Konstitusi.

"Saya cita-cita hanya guru besar, tambahan jadi dekan. Sekarang Ketua Mahkamah, ya sudah selesai saya," pungkasnya.

Sangat terpukul

Halaman
12
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help