TribunJateng/

Kaki Diamputasi Setelah Terlindas Truk, Prihati: Saya Ingin Berjalan Normal Lagi

Kaki Diamputasi Setelah Terlindas Truk, Prihati: Saya Ingin Berjalan Normal Lagi, usai menerima bantuan kursi roda

Kaki Diamputasi Setelah Terlindas Truk, Prihati: Saya Ingin Berjalan Normal Lagi
tribunjateng/daniel ari purnomo
Komunitas korban laka menerima bantuan kursi roda di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Ungaran Timur, Selasa (14/2/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Daniel Ari Purnomo

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - "Saya ingin berjalan lagi secara normal," ujar penyandang disabilitas, Prihati (40) usai menerima bantuan kursi roda di Pendopo Rumah Dinas Bupati Semarang, Ungaran Timur, Selasa (14/2/2017).

Prihati merupakan korban kecelakaan lalu lintas berfatalitas tinggi. Kaki kanannya diamputasi tim medis sebatas lutut. Ia alami kecelakaan pada bulan Maret 2016 silam.

Secara ringkas, Prihati menceritakan kejadian yang menderanya. Ia jatuh dari motor saat berboncengan dengan sang keponakan. Dua kaki Prihati pun terlindas ban truk. Beruntung, Prihati selamat dalam kejadian itu, meski kaki kanannya harus diamputasi.

"Saya ingin kaki palsu. Saya sudah menabung dari penghasilan sebagai penyalur roti di Pasar Babadan," ungkap warga Langensari Barat RT 03 RW 06, Ungaran Barat itu.

Sebagai informasi, awalnya Prihati adalah pengusaha roti. Ia menyuplai roti dan jajanan ke Pasar Babadan, Ungaran. Kecelakaan lalu lintas mengubah segalanya. Pendapatannya pun merosot tajam. Kini ia tak sanggup membuat roti.

"Sekarang cuma penyalur roti dari Ambarawa. Untungnya lebih sedikit, Rp 50 per roti. Keuntungan itu saya kumpulkan untuk membeli kaki palsu," kata Prihati.

Harapan Prihati pun temui titik terang. Satlantas Polres Semarang bersama Paguyuban Peduli Penyandang Disabilitas (P3D) Kota Semarang akan memberi Prihati sebuah kaki palsu, secara cuma-cuma.

Ketua Umum P3D Kota Semarang, Fita berujar pihaknya akan memberi alat bantu gerak, bekerjasama dengan Yayasan Peduli Tuna Daksa Indonesia.

"Kami sudah menjalin komunikasi dengan Satlantas Polres Semarang terkait kerjasama pemberian alat bantu gerak, bagi Komunitas Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Kabupaten Semarang," katanya.

Pemberian alat bantu gerak itu tak dapat instan. Calon penerima bantuan harus menjalani proses pengukuran terlebih dulu. Setelah itu, pasien dapat menunggu sekitar enam bulan.

"Alat bantu yang kami berikan itu bergaransi seumur hidup. Kalau rusak, dapat kami perbaiki," ujar Fita.

Fita mengimbuhkan harga alat bantu gerak, misalnya kaki palsu di pasaran kisaran Rp 2-7 juta, tergantung bahan serta ukuran. (*)

Penulis: Daniel Ari Purnomo
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help