TribunJateng/

Forum Guru

Literasi Sastra Membangun Karakter Siswa

Ada yang baru dengan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMA tahun ini. Jika tahun-tahun sebelumnya peserta menempuh enam mata uji,

Literasi Sastra Membangun Karakter Siswa
TRIBUN JOGJA/ Ikrob Didik Irawan
Ilustrasi

Di kelas Ilmu Bahasa, siswa lebih antusias diajak memproduksi karya ketimbang membicarakan sastra. Menulis cerpen berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain kemudian secara kelompok menjilidnya menjadi kumpulan cerpen, siswa merasa senang. Menulis puisi kemudian secara klasikal membuatnya dalam kumpulan puisi atau antologi puisi, para siswa juga tertarik. Apalagi mereka harus mewujudkannya menjadi antologi yang layak pajang di perpustakaan sekolah.

Dalam pembuatan antologi puisi ini, mereka tidak sekadar mengumpulkan puisinya beserta profil singkat penulisnya. Mereka juga harus menyepakati judul antologi, merancang cover, dan memberikan kata pengantar. Untuk menentukan judul antologi saja mereka sebenarnya sudah belajar untuk tidak menonjolkan egonya, tapi benar-benar dapat berpikir jernih dan penuh tanggung jawab.

Lantas apa peran guru sastra dalam mewujudkan karya mereka ini? Jika karya mereka sudah siap, guru dapat memberikan pengantar dalam antologi puisi ini. Dengan demikian, karya mereka tidak hanya berhenti di meja guru, tapi tetap terdokumentasikan dengan baik dan bisa menambah isi koleksi perpustakaan sekolah.

Sebenarnya bukan hanya guru bahasa dan sastra Indonesia saja yang berperan dalam kreasi bersastra siswa ini. Hal ini bisa dilakukan juga oleh guru bahasa Inggris dan bahasa Jawa sehingga para siswa tetap akrab dengan dunia sastra. Siswa akan terpacu daya kreasinya dan tetap tidak kehilangan hati nurani.

Muhlasin,S.Pd

Guru Bahasa dan Sastra Indonesia SMA N 3 Salatiga(*)

Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help