Kasus Asusila

Kasus Pelecehan Seksual, Mbak Ita: Ngapain Satpol PP Harus Jerit-Jerit Malam

Tujuh perempuan honorer menemui Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu atau Mbak Ita untuk kejelasan kasusnya

Kasus Pelecehan Seksual, Mbak Ita: Ngapain Satpol PP Harus Jerit-Jerit Malam
tribunjateng/dok
Kasus Pelecehan Seksual, Mbak Ita: Ngapain Satpol PP Harus Jerit-Jerit Malam 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Sebanyak tujuh petugas perempuan Satpol PP korban pelecehan seksual mendatangi kantor Wakil Wali Kota Semarang, Kamis (2/3). Kehadiran mereka untuk dimintai klarifikasi di hadapan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu.

Ketujuh korban yakni DS, IA, DP, BA, NA (sebelumnya disebut NO), NE, dan RA. Mereka diduga digerayangi oknum Satpol PP berinisial K saat mengikuti Caraka Linmas di kawasan Candi Gedongsongo, Sabtu (4/2) dini hari lalu.

Ketika ditemui Tribun Jateng, seluruh korban kompak tutup mulut, dan enggan menceritakan kasus yang dialami. Seorang korban hanya menjawab, "Maaf, no comment," ujarnya, lalu ngeloyor pergi bersama enam korban lain.

Adapun, Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu, mengatakan, kedatangan tujuh korban itu untuk memberikan klarifikasi terkait dengan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh K.

“Saya tidak mau dapat informasi katanya-katanya saja. Saya ingin mengklarifikasi langsung kepada korban. Saya tadi tanya ceritanya dugaan pelecehan itu terjadi,” paparnya.

Dari keterangan korban, Ita menuturkan, dugaan pelecehan terjadi saat korban jalan sendirian tengah malam menuju pos satu ke pos lain. Kemudian muncul terduga pelaku.

“Cerita masing-masing korban terkait dengan perlakuan dari pelaku. Semua keterangan sudah di-BAP (berita acara pemeriksaaan). Akan kami pantau, karena kasus ini tidak bisa dianggap enteng,” ujarnya.

Selain tujuh korban, Ita juga akan memanggil K untuk memberikan klarifikasi. Terduga pelaku akan dikonfrontir dengan korban.

"Kami belum bisa memutuskan oknum K bersalah atau tidak, karena proses pemeriksaan Inspektorat belum selesai. Tapi tetap saya kawal dan monitor hingga diambil keputusan. Mau tidak mau, suka tidak suka harus ada keputusan,” jelasnya.

Ita juga akan mengevaluasi kegiatan Caraka Linmas agar diganti dengan kegiatan lain yang sesuai dengan tugas Satpol PP. Ia pun mempertanyakan kenapa harus ada kegiatan ‘jeritan malam’.

Halaman
12
Penulis: galih permadi
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help