Kasus Asusila

VIDEO Tujuh Perempuan yang Digerayangi Oknum Satpol PP Mengadu ke Mbak Ita

VIDEO Tujuh Perempuan yang Digerayangi Oknum Satpol PP Mengadu ke Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu, Kamis (2/3).

VIDEO Tujuh Perempuan yang Digerayangi Oknum Satpol PP Mengadu ke Mbak Ita
tribunjateng/galih permadi
Wakil Walikota Semarang Hevearita G Rahayu menjawab pertanyaan wartawan terkait kasus dugaan pelecehan seks yang menimpa honorer Satpol PP 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Sebanyak tujuh petugas perempuan Satpol PP korban pelecehan seksual mendatangi kantor Wakil Wali Kota Semarang, Kamis (2/3). Kehadiran mereka untuk dimintai klarifikasi di hadapan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu.

Ketujuh korban yakni DS, IA, DP, BA, NA (sebelumnya disebut NO), NE, dan RA. Mereka diduga digerayangi oknum honorer Satpol PP berinisial K saat mengikuti Caraka Linmas di kawasan Candi Gedongsongo, Sabtu (4/2) dini hari lalu.

Ketika ditemui Tribun Jateng, seluruh korban kompak tutup mulut, dan enggan menceritakan kasus yang dialami. Seorang korban hanya menjawab, "Maaf, no comment," ujarnya, lalu ngeloyor pergi bersama enam korban lain.

Adapun, Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita G Rahayu, mengatakan, kedatangan tujuh korban itu untuk memberikan klarifikasi terkait dengan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh K.

Sejumlah perempuan honorer Satpol PP Kota Semarang temui Wakil Walikota Semarang, Kamis 2 Maret 2017
Sejumlah perempuan honorer Satpol PP Kota Semarang temui Wakil Walikota Semarang, Kamis 2 Maret 2017 (tribunjateng/galih permadi)

“Saya tidak mau dapat informasi katanya-katanya saja. Saya ingin mengklarifikasi langsung kepada korban. Saya tadi tanya ceritanya dugaan pelecehan itu terjadi,” paparnya.

Dari keterangan korban, Ita menuturkan, dugaan pelecehan terjadi saat korban jalan sendirian tengah malam menuju pos satu ke pos lain. Kemudian muncul terduga pelaku.

“Cerita masing-masing korban terkait dengan perlakuan dari pelaku. Semua keterangan sudah di-BAP (berita acara pemeriksaaan). Akan kami pantau, karena kasus ini tidak bisa dianggap enteng,” ujarnya.

Selain tujuh korban, Ita juga akan memanggil K untuk memberikan klarifikasi. Terduga pelaku akan dikonfrontir dengan korban.

"Kami belum bisa memutuskan oknum K bersalah atau tidak, karena proses pemeriksaan Inspektorat belum selesai. Tapi tetap saya kawal dan monitor hingga diambil keputusan. Mau tidak mau, suka tidak suka harus ada keputusan,” jelasnya.

Ita juga akan mengevaluasi kegiatan Caraka Linmas agar diganti dengan kegiatan lain yang sesuai dengan tugas Satpol PP. Ia pun mempertanyakan kenapa harus ada kegiatan ‘jeritan malam’.

"Kalau ada kegiatan fisik ya siang hari, kenapa harus malam hari. Mereka bukan mahasiswa atau pramuka. Ngapain Satpol PP harus jerit-jerit malam hari, kan tidak ada hubungannya. Harus diganti yang lebih implementatif,” tandasnya.

Kegiatan itu, lanjut Ita, bisa diganti dengan kegiatan cara berdandan yang menarik, atau cara bersikap yang humanis. Hal itu mengingat Satpol PP perempuan juga ada di bagian pariwisata, penegakan perda, dan sosialisasi perda.

"Mereka perlu diajarkan dan dilatih agar lebih menarik dan humanis. Kalau di bagian pariwisata diajarkan bahasa Inggris dan dan cara melayani turis yang baik. Kalau bagian sosialisasi perda bagaimana menyampaikan perda ke warga yang baik. Bukan jerit-jerit malam nggak jelas,” urainya. (tribunjateng/galih permadi)

Penulis: galih permadi
Editor: iswidodo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help