TribunJateng/

Jalan Tol Trans Jawa Dibangun, Aptrindo Minta Pemerintah Tak Lupakan Jalan Pantura

Padahal, sejak puluhan tahun yang lalu jika musim penghujan tiba, dimana-mana banyak jalanan penuh lubang.

Jalan Tol Trans Jawa Dibangun, Aptrindo Minta Pemerintah Tak Lupakan Jalan Pantura
Tribun Jateng/hermawan handaka
Pekerja menyelesaikan pembangunan jalan tol Batang-Semarang (BSTR) seksi 5 di Desa Kalikangkung, Kota Semarang, Selasa (29/11). Jalan tol Batang-Semarang dari Seksi 1 (Batang) hingga Seksi 5 (Semarang) ini memiliki panjang 73,7 kilometer. Proyek ini diharapkan kelar dan bisa dilalui saat arus mudik dan balik Lebaran 2017. 

Laporan Wartawan Tribun Jateng, Raka F Pujangga

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -- Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Jawa Tengah mengharapkan keberadaan jalan tol di utara Jawa, tak membuat pemerintah melupakan Jalan Pantura..

Wakil Ketua Aptrindo Jateng, Bambang Widjanarko mengeluhkan, meski pemerintah telah mulai membangun jalan tol, namun kondisi jalan pantura justru semakin tak terawat.

Padahal, sejak puluhan tahun yang lalu jika musim penghujan tiba, dimana-mana banyak jalanan penuh lubang.

"Bahkan akhir-akhir ini sering menyebutnya sebagai daerah wisata "jeglongan sewu" ( Jawa : lubang seribu)," kata dia, dalam rilisnya, Jumat (17/3/2017).

Menurutnya, pemerintah seharusnya mulai berpikir dan mencari solusi agar kejadian musiman ini bisa berakhir, bukannya malah selalu mencari kambing hitam persoalan ini.

"Kita semua sudah tahu, bahwa Indonesia patut bersyukur, dikaruniai tanah yang sangat subur. Namun kelemahan dari tanah daratan subur penuh humus adalah tanahnya labil dan sering mengalami pergerakan," kata dia.

Makanya, kata dia, di Indonesia sering dijumpai bencana tanah longsor dan ambles, bahkan di daerah yang sama sekali tidak terbeban.

"Selain itu jalan Pantura juga jarang mempunyai drainase yang memadai, sehingga sering tergenang air saat hujan dan berakibat pada mengelupasnya aspal, sehingga menciptakan lubang," kata dia.

Jalan yang asalnya bernama "Grote Postweg" itu sejak 1808 telah bertugas menjadi tulang punggung lalu lintas di pulau Jawa.

"Jadi sebaiknya pemerintah mencari teknologi untuk mengatasi pergerakan tanah yang sering terjadi," kata dia.

Lebih parah lagi, kata dia, jika di jalur pantura ada jembatan yang putus. Maka sulit untuk dibayangkan bagaimana macetnya lalu lintas di sepanjang pulau Jawa ini.

"Karena jalan alternatif yang tersedia, sangat jauh kemampuannya jika dibanding jalan-jalan warisan Hindia Belanda," jelas dia.

Jembatan yang dibangun belakangan ini, dinilai gampang sekali runtuh dan usianya semakin pendek, tidak terkecuali juga jalan tol yang baru diresmikan saja sudah banyak lubangnya.

"Praktis masih banyak jembatan warisan Hindia Belanda yang menjadi tulang punggung lalu lintas di pulau Jawa," kata dia.

Meskipun separuh jalan tol sudah terbangun di wilayah Jalan Pantura, namun bukan berarti jalan Pantura tidak diperhatikan lagi.

"Jadi beban berat truk bermuatan adalah hanya salah satu sebab rusaknya jalan saja," jelas dia. (*)

Penulis: raka f pujangga
Editor: Catur waskito Edy
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help