Cerita Petani Kendeng Yang Entah Sampai Kapan Bakal Pasung Kakinya di Depan Istana

Sebanyak 50 petani dari kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, melanjutkan aksi protes mereka memasung kaki dengan semen

Cerita Petani Kendeng Yang Entah Sampai Kapan Bakal Pasung Kakinya di Depan Istana
KOMPAS.com/Kristian Erdianto
Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng melanjutkan aksi protes memasung kaki dengan semen di depan Istana Negara, besok, Rabu (15/3/2017). Pada hari ketiga aksi protesnya ini, jumlah petani yang menyemen kaki pun bertambah menjadi 20 orang. Dua hari sebelumnya, sebelas petani sudah mencor kakinya lebih dulu. Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Joko Prianto mengatakan, sembilan petani yang terdiri dari dua perempuan dan tujuh laki-laki ini, berasal dari Pati dan Kudus. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Sebanyak 50 petani dari kawasan Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, melanjutkan aksi protes mereka memasung kaki dengan semen di depan Istana Negara, Jumat (17/3/2017).

Jumlah petani yang melakukan aksi semen kaki terus bertambah sejak dimulai pada Senin (13/3).

"Kalau pemerintah mencintai negeri ini, tidak usah merusak. Kita mencintai badan sendiri, jangan sampai mengeruk badan sendiri," kata petani Kendeng, Sukinah, yang telah dua kali melakukan aksi semen di depan Istana Negara.

Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali melakukan aksi protes dengan memasung kaki dengan semen. (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)
Petani dari kawasan Pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali melakukan aksi protes dengan memasung kaki dengan semen. (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG) ()

Setahun lalu, Sukinah hanya melakukan aksi memasung kaki dengan semen selama dua hari.

Tetapi pada kali ini, hingga memasuki hari kelima, Sukinah bertekad belum akan berhenti.

"Belum tahu (sampai kapan). Kami akan terus begini sampai bertemu Pak Jokowi, kalau beliau tidak bisa semoga dikirim utusannya," kata Sukinah.

Menurut Sukinah, petani Kendeng kembali beraksi sebagai bentuk protes terhadap izin lingkungan baru yang diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atas kegiatan penambangan karst PT. Semen Indonesia di Rembang.

Sukinah telah aktif berjuang selama tiga tahun, menolak penambangan semen di kampung halamannya.

"Kami aksi semen karena sudah judek (buntu pikiran). Harus ngapain lagi toh biar kami didengar?" katanya.

"Kadang capek, namanya manusia. Tapi jika lihat anak-anak kecil jadi semangat lagi karena mereka membutuhkan kami-kami ini," ujar Sukinah. (Antara)

Editor: galih pujo asmoro
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help